Setelah Mundur, Eks PM Hariri Kembali ke Libanon

Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 22/11/2017 06:53 WIB
Setelah Mundur, Eks PM Hariri Kembali ke Libanon Saad al-Hariri kembali ke Libanon setelah menyatakan mundur dari jabatan PM dalam pidato dari Arab Saudi. (Reuters/Hasan Shaaban)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saad al-Hariri untuk pertama kalinya kembali ke Libanon pada Selasa waktu setempat (21/11), setelah mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri melalui pernyataan kontroversial yang disampaikan di Arab Saudi.

Pengunduran diri mendadak Hariri pada 4 November lalu membawa Libanon ke garis depan perselisihan antara kerajaan Sunni Arab Saudi dan Islamis Syiah Iran yang bersekutu dengan Hizbullah, organisasi di bawah pemerintahan Beirut.

Hariri, sekutu lama Arab Saudi, menyebut kekhawatiran akan pembunuhan dan ikut campur Iran beserta Hizbullah di dunia Arab dalam pidato pengunduran dirinya.


Langkah ini bahkan mengejutkan para anak buahnya sendiri, sementara sejumlah pejabat negara serta politikus Libanon yang dekat dengan Hariri menuding Riyadh memaksanya untuk mengundurkan diri dan menahannya di negara tersebut.

Arab Saudi dan Hariri telah menampik dugaan tersebut.

Presiden Libanon Michel Aoun, yang mengirim utusan untuk mendorong negara-negara asing memastikan kepulangan Hariri dari Arab Saudi, telah menolak pernyataan pengunduran diri itu hingga ia kembali ke negara asalnya.

Dari bandara Beirut, Hariri langsung menuju makam ayahnya, Rafik al-Hariri, yang dibunuh pada 2005 lalu sehingga sang anak terpaksa terjun ke dunia politik.
Dilaporkan Reuters, ketika ditanya apakah ada pesan-pesan untuk warga Libanon yang bersatu untuk menuntutnya kembali menjabat sebagai PM, Hariri hanya menyatakan "terima kasih."

Hariri diperkirakan akan terlibat dalam acara perayaan peringatan kemerdekaan Libanon Rabu ini.

Sebelumnya, Hariri bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi di Cairo, mengatakan ia akan mengumumkan "posisi politik" sesampainya di Libanon. Masih belum jelas apakah dia akan berpegang pada keputusannya atau kembali menjabat.

Dalam wawancara pada dengan stasiun televisi miliknya pada 12 November lalu dari Arab Saudi, Hariri mengatakan akan kembali ke Libanon untuk mengonfirmasi pengunduran dirinya.

Namun, dia juga membuka kemungkinan membatalkan keputusan itu seandainya Hizbullah menghargai keputusan Libanon untuk tidak ikut campur dalam konflik regional, terutama di Yaman.
Menyusul intervensi Perancis, Hariri meninggalkan Riyadh menuju Paris akhir pekan kemarin. Dia terbang ke Beirut dari Cyprus, di mana ia mampir selama 45 menit untuk bertemu Presiden Nicos Anastasiades.

Dalam pertemuan dengan Sisi, Hariri menyatakan dirinya membahas stabilitas Libanon dan pentingnya negara untuk tidak ikut campur dalam "semua konflik regional."

(aal)