ANALISIS

Ingin Ikut Olimpiade Korsel, Korut Berupaya Redakan Tekanan

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Selasa, 02/01/2018 18:58 WIB
Kim Jong-un disebut berupaya meredakan ketegangan internasional dengan cara menawarkan keterlibatan dalam Olimpiade Musim Dingin di Korsel. (KCNA via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah setahun melontarkan ancaman dan mengembangkan senjata, pemimpin Korea Utara tampaknya kini menggunakan Olimpiade Musim Dingin di Korea Selatan sebagai alat untuk meredakan tekanan internasional dan memastikan senjata nuklirnya aman tak tersentuh.

Melalui pidato Tahun Baru, Kim Jong-un meminta ketegangan di Semenanjung Korea dikurangi. Tak berhenti di situ, dia juga mengangkap kemungkinan Korut berpartisipasi di Olimpiade yang digelar di Pyeongchang, bulan depan.

Korea Selatan sejauh ini menyambut baik usulan keterlibatan Korea Utara dalam kompetisi demi memastikan gelaran tidak terganggu uji coba peluru kendali atau nuklir, dan membangun kembali dialog dengan negara terisolasi itu.


Sejumlah analis yang dikutip Reuters pada Selasa (2/1) mengatakan pertaruhan Kim bertujuan untuk menjauhkan Seoul dengan Washington. Amerika Serikat selama ini memimpin kampanye global memberi tekanan maksimum kepada Korut dan menyatakan siap menggunakan opsi militer jika diperlukan.

Langkah itu juga dinali mengincar konsensus internasional lebih luas yang melibatkan negara-negara besar seperti China, Rusia dan Jepang. Ketiga negara itu telah mengetatkan sanksi dan memperdalam isolasi untuk Korea Utara dalam beberapa bulan ke belakang. 
"Sebagian besar aturan main keluarga Kim di antaranya adalah mengeksploitasi dan memperluas keberagaman kepentingan, misalnya antara AS dan Korea Selatan, tapi lebih luas lagi di antara lima tetangga-tetangga besarnya," kata Daniel Russel, mantan diplomat utama AS untuk Asia Timur.

Korea Utara telah lama mengikuti strategi provokasi intens yang diikuti fase rekonsiliasi untuk mengekspos keretakan, ujarnya.

"Ini adalah situasi klasik bersatu kita teguh bercerai kita runtuh," kata Russel. "Selalu lebih mudah mempertahankan solidaritas lima pihak ketika Korea Utara bertingkah buruk."

Presiden AS Donald Trump memimpin upaya meningkatkan sanksi global terhadap Korea Utara demi menghentikan perkembangan rudal nuklir yang bisa menghantam negaranya.
Washington menyatakan kerja sama penuh dengan China, Rusia dan negara-negara lain merupakan hal vital untuk kesuksesan upaya ini, termasuk pembatasan signifikan atas perdagangan dan hubungan lain terhadap Korut.

China, yang masih menjadi rekanan penting Korea Utara, telah membatasi perdagangannya dan mematuhi sanksi yang dijatuhi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, Washington terus memintanya untuk memberikan upaya yang lebih dari itu.

(aal)

1 dari 3