Gunung Mayon Keluarkan Lahar, Sejumlah Sekolah Filipina Libur

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 16/01/2018 19:31 WIB
Gunung Mayon Keluarkan Lahar, Sejumlah Sekolah Filipina Libur Sejumlah sekolah di Bicol diliburkan setelah Mayon, salah satu gunung berapi paling aktif di Filipina, mengeluarkan lahar dan debu vulkanik, Senin (15/1). (Reuters/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah sekolah di wilayah Bicol diliburkan setelah Gunung Mayon, salah satu gunung merapi paling aktif di Filipina, mengeluarkan lahar dan debu vulkanik pada Senin (15/1) malam waktu setempat.

Sebagaimana dilansir Reuters, penutupan ini memungkinkan pemerintah lokal menggunakan gedung-gedung sekolah untuk menampung sementara warga yang harus mengungsi karena tempat tinggal mereka berada di zona berbahaya.

Lebih dari 120 ribu warga telah mengungsi ke pusat evakuasi setelah gunung yang terletak di tengah Provinsi Albay itu terus menunjukkan aktivitas sejak Sabtu pekan lalu.
Institut Volkanologi dan Seismologi Filipina (Phivolcs) mencatat sembilan kali guncangan, empat di antaranya disertai semburan lahar, sejak Senin malam.


Menurut Phivolcs, aliran lahar dan piroklastik juga telah mencapai radius enam kilometer dari zona berbahaya yang telah ditetapkan pejabat berwenang setempat.

Selain sekolah, jadwal penerbangan juga terganggu akibat aktivitas Mayon. Otoritas bandara Manila mengatakan maskapai Cebu Pacific membatalkan sejumlah penerbangan menuju Legazpi yang berjarak 47 kilometer dari Gunung Mayon dengan alasan cuaca buruk.

Sementara itu, meski tak membatalkan jadwal, Philippine Airlines menunda sejumlah penerbangannya dari dan menuju Legazpi.
Sejauh ini, status gunung masih berada pada level 3 dan bisa kapan saja berubah menjadi level 4 bahkan 5. Level 4 menunjukkan bahwa erupsi bisa terjadi dalam hitungan hari, sementara level 5 berarti gunung tengah bererupsi.

"Peringatan level 3 tetap berlaku di atas Gunung Mayon, yang berarti saat ini berada dalam tingkat paling tinggi aktivitasnya karena magma berada di kawah sehingga letusan berbahaya bisa terjadi kapan saja dalam beberapa minggu, bahkan beberapa hari ke depan," bunyi pernyataan Phivolcs, Selasa (16/1).

Aktivitas gunung yang memiliki ketinggian 2.464 meter itu telah terdeteksi sejak akhir pekan lalu. Pada Minggu (14/1), gunung tersebut bahkan mulai mengeluarkan lumpur dan bebatuan.
Pemerintah daerah Albay memperluas area evakuasi hingga mencapai dua kota lain di sekitar gunung. Pihak berwenang juga mengimbau wisatwan lokal maupun asing untuk menghindari desa-desa yang terpapar debu vulkanik.

"Ada evakuasi yang masih terus dilakukan di Kota Daraga dan Legazpi karena aliran lahar. Aliran lahar telah mencapai beberapa daerah sekitar tiga kilometer dari gunung merapi tersebut," ujar juru bicara Badan Penanggulangan Risiko Bencana Nasional, Romina Marsigan.

Mayon merupakan salah satu gunung yang memiliki daya tarik wisatawan cukup besar karena keunikan bentuk kerucutnya yang hampir sempurna. Gunung tersebut terakhir kali meletus pada 2014 lalu. Letusan Mayon terburuk terjadi pada Februari 1814 silam, hingga menewaskan 1.200 orang. (has)