Duterte Akui Lakukan Pembunuhan Tanpa Peradilan

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 28/09/2018 16:45 WIB
Duterte Akui Lakukan Pembunuhan Tanpa Peradilan Ilustrasi (REUTERS/Romeo Ranoco)
Jakarta, CNN Indonesia -- Untuk pertama kali Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengaku kepada publik bahwa pembunuhan tanpa peradilan benar-benar terjadi di bawah pemerintahannya.

Dalam pidato dihadapan pejabat eksekutif di istana kepresidenan, Duterte kembali menyinggung perang anti-narkobanya yang telah menyebabkan ribuan terduga kriminal tewas di tangan aparat keamanan tanpa proses hukum yang jelas.

Topik itu Duterte singgung sebagai bentuk tantangannya bagi militer dan polisi yang berani menggulingkannya jika merasa tak puas dengan kinerja dia sebagai presiden.


"Saya beritahu militer, apa kesalahan saya? Apakah saya pernah mencuri satu peso pun?" kata Duterte. "Satu-satunya dosa saya hanya lah pembunuhan di luar hukum."

Dikutip The Strait Times, ini kali pertama Duterte mengakui ada pelanggaran hukum yang terjadi dalam pemerintahannya. Pernyataan Duterte tersebut semakin menguatkan kredibilitas klaim yang selama ini dituduhkan kelompok pemerhati hak asasi manusia terhadap pemerintahannya

Sejauh ini, terdapat dua tuntutan terhadap Duterte yang telah dilayangkan ke Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) berbasis di Den Haag. Duterte menganggap kritikan hingga tuntutan komunitas internasional itu sebagai bentuk intervensi asing terhadap urusan negaranya.

Duterte bahkan telah menarik Filipina keluar dari Statuta Roma, traktat yang mendasari pembentukan ICC.

Kepolisian Nasional Filipina memperkirakan sedikitnya 4.500 kriminal narkoba tewas dalam dua tahun terakhir dalam kampanye anti-narkoba Duterte. Lembaga pemerhati hak azasi manusia, Human Rights Watch, malah memperkirakan ada lebih banyak lagi korban, setidaknya 12 ribu orang tewas di tangan polisi Filipina.

Sebagian dari mereka tewas tanpa proses hukum yang jelas bahkan belum bisa dibuktikan terpidana narkoba.

Seorang advokat HAM, Romel Bagares, mengatakan pernyataan Duterte itu sejauh ini merupakan pengakuan langsung orang nomor satu di Filipina itu.

"Dan saya terkejut tidak ada respons apa pun dari istana sejak Duterte membuat pernyataan itu," katanya. "Saya yakin pernyataan Duterte sangat menarik bagi ICC untuk melakukan penyelidikan awal tentang dugaan pelanggaran HAM yang dilakukannya di bawah kampanye anti-narkoba." (rds/eks)