WhatsApp Khashoggi Tinggalkan Jejak Petunjuk Pembunuhan

CNN Indonesia | Senin, 03/12/2018 11:01 WIB
WhatsApp Khashoggi Tinggalkan Jejak Petunjuk Pembunuhan Tak berhenti di tulisan-tulisannya di media, Jamal Khashoggi terus menyuarakan protes terhadap pemerintah Arab Saudi melalui aplikasi pesan elektronik WhatsApp. (MOHAMMED AL-SHAIKH/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak hanya dengan tulisan tajamnya di media, Jamal Khashoggi juga terus menyuarakan protes terhadap pemerintah Arab Saudi di bawah sang putra mahkota, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS), melalui aplikasi pesan elektronik WhatsApp.

Protes tersebut terangkum dalam 400 pesan WhatsApp yang Khashoggi kirim kepada salah satu rekan aktivisnya, Omar Abdulaziz, selama kurang lebih satu tahun sebelum jurnalis tersebut dibunuh di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, 2 Oktober lalu.

Dalam sejumlah pesan, Khashoggi menyebut MbS sebagai "setan" yang tak segan menghabisi semua pihak penghalang jalannya, termasuk para pendukungnya.


"Semakin banyak korban yang ia makan, ia semakin ingin lebih. Saya tidak terkejut jika opresi itu bahkan akan mencapai orang-orang yang mendukungnya," tulis Khashoggi dalam pesan yang dibagikan Abdulaziz kepada CNN.
Dari sekadar wacana, kedua aktivis itu mulai merencanakan gerakan pemuda secara daring untuk menentang pemerintah Saudi.

"[Khashoggi] meyakini MbS adalah sumber masalahnya dan dia mengatakan bahwa bocah itu harus dihentikan," tutur Abdulaziz dalam wawancara eksklusif dengan CNN.

Mereka pun merencanakan pembentukan pasukan siber untuk mengungkap segala bentuk pelanggaran yang dilakukan pemerintah Saudi.
Keduanya tetap menjalin komunikasi melalui pesan elektronik meski terpisah jarak karena Khashoggi sedang dalam pelarian di Amerika Serikat, sementara Abdulaziz mendapatkan suaka di Kanada.

Hingga pada Mei lalu, Abdulaziz mengaku diajak bertemu dengan dua pejabat Saudi yang diidentifikasi bernama Abdullah dan Malek di Montreal.

Mereka menawarkan Abdulaziz untuk mengisi posisi penting dalam bidang jejaring sosial pemerintahan. Abdulaziz pun diminta untuk datang ke Kedutaan Besar Saudi di Kanada untuk mengambil sejumlah berkas.
Namun, Khashoggi dengan cepat mengetahui akal bulus pemerintah Saudi dan menyarankan Abdulaziz agar tidak menuruti permintaan tersebut.

"Dia menyuruh saya agar tidak pergi dan hanya bertemu mereka di tempat-tempat publik," ucap Abdulaziz.

Pada Agustus lalu, Abdulaziz kemudian mengaku menerima pesan dari Saudi yang mengatakan bahwa pemerintah mengetahui proyeknya dengan Khashoggi. Ia pun langsung melapor ke Khashoggi.

"Bagaimana mereka bisa tahu?" tanya Khashoggi dalam satu pesan.

"Pasti ada celah," kata Abdulaziz yang kemudian dijawab lagi oleh Khashoggi, "Semoga Tuhan menolong kita."

[Gambas:Video CNN]

Dua bulan kemudian, Khashoggi dilaporkan hilang setelah masuk ke dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul dan akhirnya dinyatakan tewas dibunuh.

Abdulaziz pun melayangkan surat tuntutan terhadap perusahaan Israel yang menciptakan perangkat lunak untuk meretas ponselnya.

"Peretasan ponsel saya memegang peran penting atas apa yang terjadi pada Jamal. Saya sangat menyesal. Rasa bersalah ini membunuh saya," ucap Abdulaziz. (has/has)