Seperti dilansir Channel NewsAsia, Jumat (21/12), UMNO selama 61 tahun selalu mendominasi panggung politik dan menjadi penguasa Malaysia. Koalisi mereka, Barisan Nasional, sulit ditaklukkan.
Akan tetapi, sejak mereka takluk dari kelompok oposisi Pakatan Harapan pimpinan Anwar Ibrahim, yang kini menjadi partai penguasa, nampaknya mulai berdampak buruk. Konon sindrom pasca berkuasa menghinggapi para politikus UMNO.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Contohnya pada 12 Desember lalu, sekitar belasan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Negara Bagian Sabah fraksi UMNO memilih mundur, dan memberi dukungan kepada koalisi Pakatan Harapan dan Anwar. Kemarin, 31 anggota DPRD UMNO di Langkawi juga melakukan hal yang sama.
Menurut sumber, sejumlah petinggi Dewan Pengurus Daerah UMNO juga bersiap hengkang dari partai itu. Mereka diduga melakukan itu karena ingin memupuk modal politik, sekaligus tetap berusaha berada di lingkaran kekuasaan.
"Saya meyakini hal itu untuk membenahi partai kami, memunculkan pemimpin baru, dan meraih kepercayaan rakyat. Saya yakin UMNO harus berperan dan tetap menjadi oposisi yang baik," kata Ketua Gerakan Muda UMNO cabang Ampang, Zulkifli Rajalie.
Menurut analisis pakar politik Malaysia, Chandra Muzaffar, fenomena pembelotan anggota UMNO ke Pakatan Harapan menunjukkan mereka sulit melepaskan jiwa penguasa. Sebab, kata dia, di benak mereka yang namanya berpolitik adalah berkuasa dan bukan menjadi oposisi. Dan berada di lingkaran kekuasaan membuat mereka mendapat banyak kemudahan dan akses.
"Ini menjadi alasan sebagian dari mereka tetap ingin berada di lingkaran kekuasaan, dan diduga dengan sengaja pindah ke partai pesaing," kata Chandra.
Di mata pakar sosio kultural Universitas Malaya, Professor Awang Azman Awang Pawi, sikap 'bedol desa' sejumlah politikus UMNO memperlihatkan mereka khawatir dengan kelangsungan karier politiknya. Apalagi pemerintahan mantan Perdana Menteri Najib Razak meninggalkan banyak masalah, salah satunya skandal megakorupsi lembaga 1 Malaysia Development Berhad (1MDB).
"Mereka khawatir diselidiki atau ditekan penguasa jika masih berada di UMNO. Di sisi lain, mereka tak bisa lagi hidup berleha-leha karena sumber keuangan yang terbatas sebagai oposisi," ujar Pawi.
Hanya saja, perpindahan sejumlah politikus UMNO ke Pakatan Harapan tidak disetujui oleh mantan wakil ketua umum Partai Keadilan Rakyat, Nurul Izzah Ibrahim. Putri Anwar itu menentang kehadiran para politikus UMNO, yang dianggap lambang kelompok penguasa yang menindas oposisi.