Cerita Dari Garis Depan Pertempuran Terakhir Melawan ISIS

CNN Indonesia | Kamis, 14/02/2019 21:17 WIB
Cerita Dari Garis Depan Pertempuran Terakhir Melawan ISIS Ilustrasi pasukan etnis Kurdi di Suriah. (REUTERS/Ari Jalal)
Jakarta, CNN Indonesia -- Letupan senapan serbu dan senjata mesin dentuman ledakan terdengar bersahut-sahutan di Kota Baghouz, Suriah. Tempat itu menjadi basis terakhir para militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang sudah semakin terdesak.

Pertempuran sengit terjadi antara Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang merupakan koalisi antara Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Kurdi melawan petempur ISIS. Meski sudah terdesak, ternyata tidak mudah menaklukkan kelompok teror itu.

"Pertempurannya sangat sengit. Perlawanan mereka juga keras," kata juru bicara SDF, Adnan Afrin, seperti dilansir AFP, Kamis (13/2).


Afrin tidak bisa memperkirakan secara pasti berapa jumlah militan ISIS yang tersisa. Dia cuma bisa mengira totalnya sekitar seribu orang, terdiri dari lelaki dan perempuan.


SDF harus bersabar menggempur basis terakhir pasukan ISIS. Serangan sudah digelar sejak Sabtu pekan lalu. Menurut Afrin, pernah suatu hari pasukan SDF berhasil merebut posisi kunci ISIS. Namun, pagi harinya ISIS datang menyerbu dan mengambil kembali lokasi itu.

Di sisi lain, Afrin menyatakan ISIS juga menyiapkan perangkap dan menggali terowongan. Jika tidak cermat melangkah nyawa melayang. Bahkan, militan ISIS juga tidak gentar melakukan serangan bom bunuh diri.

"Banyak sekali terowongan di Baghouz. Ini mengapa operasi militer harus perlahan-lahan. Banyak pembom bunuh diri menyerang posisi kami menggunakan kendaraan dan sepeda motor," ujar Afrin.

Serangan kepada ISIS bukan cuma digelar melalui darat, tetapi juga udara. Menurut Afrin, masih banyak petempur asing ISIS yang tersisa. Mereka dianggap sebagai anggota elite dan meyakini lebih terhormat mati, yang dianggap syahid, ketimbang lari dari medan pertempuran.


Mereka mengetahui hal itu karena para serdadunya selalu memantau percakapan pasukan ISIS melalui radio. Sesekali terdengar mereka berbicara dalam bahasa Arab, Turki, bahkan Prancis dan Inggris.

Akan tetapi, target yang paling dicari yakni pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, diduga kuat tidak berada dengan sisa-sisa pasukannya. Kini sejumlah militan ISIS berupaya menyamar sebagai warga sipil dan bersembunyi di antara para pengungsi. Sebagian dari mereka ada yang tertangkap, tetapi lainnya kemungkinan lolos.

Baghdadi memproklamirkan ISIS lima tahun lalu. Wilayah kekuasaannya tadinya hampir setara Inggris dan mempunyai jutaan rakyat. Mereka menerapkan sistem pendidikan tersendiri, dan mencari pemasukan melalui produksi minyak bumi, pajak, dan lain-lain. Namun, mereka mundur setelah diperangi pasukan Irak dan koalisi AS di Suriah.


Menurut banyak pihak, ISIS tetap menjadi ancaman meski saat ini sudah terdesak. Mereka hanya khawatir langkah Presiden AS, Donald Trump, dengan menarik seluruh pasukannya bisa membuat kelompok teror itu kesempatan untuk bangkit. (ayp/ayp)