Protes Pro-Palestina Jelang Final Eurovision di Israel

CNN Indonesia | Sabtu, 18/05/2019 22:35 WIB
Protes Pro-Palestina Jelang Final Eurovision di Israel Protes Anti-Israel jelang grand Final Eurovision Song Contest 2019 di Tel Aviv, 18 Mei 2019. (Reuters/Ammar Awad)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika para penyanyi peserta kontes Eurovision 2019 mempersiapkan penampilan pamungkas mereka di Tel Aviv, di luar arena polisi-polisi Israel memperketat pengamanan mengantisipasi aksi demonstrasi atau boikot dari massa anti-Israel, Sabtu (18/5).

Polisi bersenjata lengkap telah siap pada posisinya di seantero dan sekeliling komplek Expo Tel Aviv. Di setiap titik, polisi dengan gerbang pendeteksi logam dipersiapkan untuk memeriksa para pengunjung komplek tersebut.


Sejumlah surat kabar di Israel bahkan menuliskan militer negara Yahudi itu telah menyiagakan sistem pertahanan Iron Dome untuk mengawal kontes Eurovision.


Gelaran kontes menyanyi yang diikuti peserta dari 41 negara itu menjadi prokontra karena partai puncaknya digelar di Israel. Gelaran itu pun menjadi sorotan dari kelompok pro-Palestina yang memprotes kebijakan Israel di Tepi Barat dan Gaza.

Sekitar 60 orang turun dari kapal mereka di dermaga Jaffa untuk menyuarakan suara oposisi gelaran kompetisi itu di Israel.

Beberapa peserta aksi mengenakan kaus dengan tulisan, 'Eurovision: I'm not Your Toy'. Toy tersebut merujuk pada lagu yang dibawakan penyanyi Israel, Netta Barzilai, yang menjadi peserta final Eurovision di Israel.

Aksi itu sendiri digelar kelompok Zochrot yakni organisasi nonpemerintah yang mengadvokasi hak rakyat Palestina untuk kembali ke tanah mereka setelah terusir pascaperang 1948-49.

Salah satu pemandu tur, Umar al-Ghubari, mengatakan para penggemar Eurovision tahun ini merayakan momen mereka di dekat kampung rakyat Palestina sebelum perang 1948, Al-Manshiyya. Kampung itu telah hilang, dan warga Palestina yang semula tinggal di sana telah terusir sejak 71 tahun lalu.

"Tentunya Israel tak ingin menceritakan kisah ini. Mereka hanya ingin menunjukkan segalanya berjalan normal," ujar Ghubari.

Dalam gelaran final Eurovision ini, bintang pop dunia, Madonna dijadwalkan menjadi bintang tamu. Madonna yang pula dikritik karena keputusannya tampil di Israel itu mengatakan tetap akan menyanyi karena berharap dapat mendorong kampanye hak asasi manusia.

"Saya ingin melihat sebuah cita-cita baru untuk mewujudkan perdamaian," kata perempuan berusia 60 tersebut.

(Reuters/kid)