Theresa May, Yang Naik dan Turun karena Brexit

CNN Indonesia | Sabtu, 08/06/2019 10:25 WIB
Theresa May, Yang Naik dan Turun karena Brexit Theresa May mundur setelah gagal memperjuangkan negosiasi Brexit, menentang pendirian awalnya yang sebenarnya tidak ingin Inggris keluar dari Uni Eropa. (Reuters/Toby Melville)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berderai air mata, Perdana Menteri Theresa May mengumumkan rencana pengunduran dirinya setelah gagal berjuang melakukan negosiasi Brexit, menentang pendirian awalnya yang sebenarnya tidak ingin Inggris keluar dari Uni Eropa.

Perjuangan May ini bermula ketika Inggris mulai mendengungkan gagasan untuk keluar dari Uni Eropa atau Brexit pada 2016.

Kala itu, May sebenarnya mendukung sikap Perdana Menteri David Cameron untuk mempertahankan keanggotaan Inggris di Uni Eropa. Namun ternyata, hasil referendum menunjukkan sebagian besar publik ingin Inggris keluar dari Uni Eropa.
Cameron pun mengundurkan diri, tapi nama May sebenarnya tidak dijagokan menjadi pengganti karena ia memang menentang Brexit.


Awalnya, publik menebak juru kampanye Brexit, Boris Johnson, yang akan maju sebagai pengganti Cameron. Namun, Johnson mundur sehingga May bersaing dengan Menteri Energi, Andrea Leadsom.

May pun terpilih pada 13 Juli 2016 karena Leadsom sempat berkomentar soal jiwa keibuan sebagai kualifikasi utama calon pemimpin. Komentar ini tak pelak 'menendangnya' dari persaingan sebab menyinggung May yang tidak memiliki anak.

Jatuh bangun Brexit

Selepas Cameron, perjuangan untuk mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa pun berada di pundak May. Meski tak ingin Inggris hengkang, May harus menuruti kehendak rakyat.

Upayanya menemui hambatan pada November 2016, saat Pengadilan Tinggi memutuskan bahwa ia tidak bisa menerapkan Pasal 50 Perjanjian Lisbon, yang mengatur syarat satu negara jika ingin hengkang dari blok tersebut.

Setelah maju mundur banding di pengadilan dan negosiasi dengan parlemen, May akhirnya menemukan titik terang dan mengirimkan surat kepada Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, untuk memulai proses negosiasi Brexit pada 29 Maret 2017.
Theresa May, Bukan Sang Ratu Adil BrexitIlustrasi Uni Eropa. (Reuters/Srdjan Zivulovic)
Jalan panjang pun terbentang, May diberi waktu dua tahun untuk bernegosiasi mengenai ikatan antara Inggris dan Uni Eropa setelah Brexit. Semuanya harus sudah rampung pada 29 Maret 2019.

Langkah berani diambil May dengan mengumumkan pemilihan cepat Parlemen. Menurutnya, langkah ini akan memberikan stabilitas dan kepastian pada Inggris Raya selama transisi keluar dari Uni Eropa.

Sejak mengambil alih kekuasaan, May berjanji untuk membawa Inggris keluar dari Uni Eropa dan mempersatukan kembali pemerintah. Namun, jalan May tidak semulus itu.

Ia berulang kali mengalami krisis kepemimpinan hingga mosi tidak percaya karena kabinetnya dan parlemen terus berselisih terkait proses perundingan Brexit.
May ingin Inggris tetap memiliki hubungan dagang dengan Uni Eropa ketika resmi keluar, sementara pihak oposisi mendesak agar negara mereka benar-benar memutus hubungan dengan blok tersebut.

Di tengah kebuntuan ini, Uni Eropa mengundur tenggat Brexit menjadi 31 Oktober mendatang. Namun, hingga memutuskan untuk mengundurkan diri pada hari ini, pemerintahan Inggris belum juga menemukan titik temu.

Setelah mundur, Brexit mungkin akan terus lekat dengan sosok perempuan kelahiran Eastbourne, Inggris, 63 tahun silam ini. Namun, Inggris juga akan mengingatnya sebagai perdana menteri perempuan kedua setelah Margaret Thatcher, si 'Wanita Besi'.

Perempuan tangguh

May sebenarnya tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang politik. Tumbuh di pedesaan Oxfordshire, May kemudian mengambil bidang geografi di University of Oxford.

Di sana, ia bertemu dengan sang suami, Philip May. Mereka berdua kemudian mengambil pekerjaan sebagai bankir. May bekerja di Bank of England.
Theresa May, Bukan Sang Ratu Adil BrexitTheresa May bertemu dengan suaminya, Philip May, di University of Oxford. (Reuters/Simon Dawson)
Mengutip dari Britanica, dia baru meniti karier politik pada 1986 sebagai anggota dewan perwakilan di wilayah Merton, London, hingga 1994.

Setelah dua kali gagal sebagai kandidat dari Partai Konservatif untuk Majelis Rendah parlemen, May akhirnya terpilih untuk mewakili Maidenhead pada 1997.

Sejak saat itu, kariernya melesat dari orang di balik layar menjadi 'penampil'. Dalam beberapa periode, ia berhasil menduduki jabatan sebagai menteri bayangan, mulai dari untuk urusan edukasi dan kepegawaian (1999-2001), urusan transportasi, pemerintahan lokal dan wilayah (2001-2002) hingga urusan budaya, media dan olahraga (2005).

Selain menteri bayangan, dia pun pernah menjabat sebagai pemimpin bayangan di Majelis Rendah (2005-2009).

Pada 2002, May terpilih sebagai ketua Partai Konservatif. Dia menjadi perempuan pertama yang menduduki jabatan bergengsi ini.

[Gambas:Video CNN]

Meski di tengah reputasi buruk partai, ia bertekad meningkatkan jumlah anggota perempuan dalam parlemen dan melakukan modernisasi partai. Dia pun dikenal sebagai legislator tanpa omong kosong dan negosiator tangguh.

Saat Cameron naik sebagai perdana menteri pada 2010, dia menjadi Menteri Perumahan. Pada 2016, May berdiri bersama Cameron menentang Brexit.

Hingga akhirnya, ia berdiri di rumah dinasnya sebagai perdana menteri di Downing Street, mengumumkan waktu pengunduran dirinya setelah gagal melakukan negosiasi Brexit.

"Ini telah dan akan selalu menjadi penyesalan terdalam saya karena saya belum bisa menyelesaikan proses Brexit (Inggris keluar dari Uni Eropa)," kata May akhir Mei lalu. (els/has)