Bantah AS, Iran Klaim Tak Serang Tanker di Teluk Oman

CNN Indonesia | Jumat, 14/06/2019 14:44 WIB
Bantah AS, Iran Klaim Tak Serang Tanker di Teluk Oman Menlu Iran, Javad Zarif, membantah tudingan Amerika Serikat bahwa negaranya menyerang dua kapal tanker yang terbakar di Teluk Oman. (Reuters/Ahmed Saad)
Jakarta, CNN Indonesia -- Iran membantah tudingan Amerika Serikat bahwa mereka menyerang dua kapal tanker yang terbakar di Teluk Oman.

"AS langsung menuding Iran tanpa bukti faktual," ujar Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, melalui Twitter pada Jumat (14/6).




Sebagaimana dilansir AFP, kapal tanker milik Norwegia dan Jepang itu terkena ledakan setelah melintasi Selat Hormuz dan berlayar sekitar 25 mil laut dari Iran menuju Asia pada Kamis (13/6).

Otoritas Maritim Norwegia melaporkan bahwa kedua kapal itu terkena tiga ledakan sebelum hangus terbakar pada Kamis malam.

Ledakan juga menghantam kapal milik Jepang, Kokuka Courageous, yang membawa methanol, membuat kobaran api sangat besar. Namun, api tersebut berhasil dipadamkan.

Satu kru kapal mengalami luka ringan. Kapal itu pun sudah dapat kembali ke Pelabuhan Khor Fakkan di Oman pada hari ini.
Hingga saat ini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tanker tersebut.

Iran sendiri sudah mengirimkan personel angkatan laut untuk menyelamatkan puluhan kru kedua kapal. Sementara itu, Angkatan Laut AS mengaku mengangkut 21 kru dari Kokuka Courageous.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengatakan bahwa saat melakukan operasi penyelamatan itu, Angkatan Laut AS menemukan ranjau yang tak meledak masih menempel di kapal.

"Berdasarkan intelijen, senjata yang digunakan, tingkat keahlian untuk mengoperasikan, serangan Iran ke kapal, dan fakta bahwa tak ada kelompok proksi beroperasi di area tersebut, AS menyimpulkan Iran bertanggung jawab atas serangan tersebut," kata Pompeo.
Menurut Zarif, pemerintah AS sedang melakukan "diplomasi sabotase" karena tudingan dilontarkan ketika Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, sedang berada di Iran.

Dalam lawatan tersebut, Abe bertemu dengan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei. Abe membujuk agar Iran mau membuka dialog dengan AS.

Ketegangan hubungan antara Iran dan AS memang meningkat belakangan ini, terutama setelah Presiden Hassan Rouhani mengancam bakal melanjutkan pengayaan uranium, salah satu poin penting dalam kesepakatan nuklir.

Rouhani mengancam akan melanjutkan pengayaan uranium jika negara Eropa yang tergabung dalam perjanjian nuklir 2015 atau JCPOA itu tidak membela Teheran dari sanksi AS.
Perjanjian yang digagas di era Barack Obama itu menyepakati bahwa negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran. 

Sebagai timbal balik, Iran harus menyetop segala bentuk pengembangan senjata rudal dan nuklirnya, termasuk pengayaan uranium.

Namun, di bawah komando Presiden Donald Trump, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran.

[Gambas:Video CNN]

Sejak ultimatum Rouhani tersebut, AS dan Iran terus saling melontarkan ancaman dan beradu mulut. Trump bahkan mengerahkan kapal induk dan sejumlah pesawat pengebom ke Timur Tengah.

Namun kini, Trump mengaku terbuka untuk pembicaraan baru karena melihat Iran gagal sebagai negara.

"Saya tidak mau mereka gagal sebagai negara. Kami bisa mengubah itu dengan sangat cepat, tapi sanksi itu memang luar biasa," kata Trump. (has/has)