KILAS INTERNASIONAL

Benny Wenda Respons Kisruh Papua hingga Red Notice Zakir Naik

CNN Indonesia | Jumat, 23/08/2019 06:30 WIB
Benny Wenda Respons Kisruh Papua hingga Red Notice Zakir Naik Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanggapan tokoh separatis Benny Wenda atas kisruh di Papua hingga desakan pemerintah India agar Interpol mengeluarkan red notice untuk Zakir Naik menjadi topik hangat kabar internasional pada Kamis (22/8).

1. Tokoh Separatis Benny Wenda Respons Jokowi soal Kisruh Papua

Beberapa hari setelah kerusuhan pecah di sejumlah titik di Papua, tokoh separatis dari pulau paling timur Indonesia tersebut, Benny Wenda, akhirnya angkat suara. Ia menganggap pernyataan Presiden Jokow Widodo tak cukup meredam kerusuhan.

"Kata-kata Presiden Jokowi tidak cukup. Rakyat Papua tidak akan berhenti berjuang untuk meraih kesetaraan, pengakuan, dan referendum kemerdekaan," kata Benny melalui pernyataan yang dirilis di situs Persatuan Gerakan Pembebasan untuk Papua Barat (ULMWP) pada Selasa (20/8).


Tokoh separatis yang kini mengasingkan diri di Inggris itu pun mengatakan bahwa kerusuhan di Manokwari, Jayapura, dan Sorong memperkuat alasan rakyat Papua berjuang untuk referendum kemerdekaan.

[Gambas:Video CNN]

Kerusuhan di Papua bermula ketika demonstrasi di Manokwari, Jayapura, hingga Sorong berakhir ricuh. Protes itu digelar sebagai tanda protes atas penangkapan puluhan mahasiswa Papua di Surabaya pada Minggu (18/8).

Demi meredakan ketegangan, Jokowi melalui pidatonya di Jakarta, mengakui ada hal yang membuat masyarakat Papua tersinggung. Namun, ia mengajak masyarakat Papua memaafkan dan percaya kepada pemerintah.

2. India Desak Interpol Rilis Red Notice untuk Zakir Naik

Di kawasan Asia, berita internasional juga diramaikan dengan kabar bahwa pemerintah India mendesak agar Interpol mengeluarkan red notice atas Zakir Naik, dai kontroversial yang kini berstatus penduduk tetap di Malaysia.

Seorang pejabat di Direktorat Aparat India (ED) mengatakan bahwa pihaknya akan menyampaikan desakan itu dalam waktu dekat.

"Kami dipersenjatai dengan perintah penangkapan yang tak terbantahkan dan berdasarkan hukum, red notice merupakan langkah kami selanjutnya," ujar pejabat tersebut kepada Hindustan Times, sebagaimana dikutip Free Malaysia Today.
Zakir memang menjadi buronan di India sejak 2016 lalu, ketika aparat membuka penyelidikan terkait pencucian uang dan ujaran kebencian yang memicu ekstremisme.

Namun, Zakir ogah pulang karena khawatir tidak akan diperlakukan adil dalam sistem peradilan India. Ia pun kabur dari India dan mendapatkan perlindungan di Malaysia.

Status Zakir di Malaysia terancam setelah sejumlah menteri mendesak Perdana Menteri Mahathir Mohamad untuk mencabut predikat penduduk tetap sang dai karena ucapan bernada rasial yang dilontarkan.

3. Pedemo Hong Kong Bentrok dengan Polisi di Stasiun MRT

Sementara itu, situasi kembali memanas di Hong Kong. Setelah sempat berjalan damai selama akhir pekan lalu, unjuk rasa di Hong Kong kembali ricuh ketika ratusan demonstran dilaporkan terlibat bentrok dengan polisi di stasiun Mass Transit Railway (MTR).

Kali ini, para pedemo menuntut polisi menindak massa berkaus putih yang sempat menyerang warga pendukung demo anti-pemerintah di stasiun Yuen Long pada 21 Juli lalu hingga melukai puluhan orang.

[Gambas:Video CNN]

Yuen Long merupakan salah satu distrik di pinggiran Hong Kong dan dikenal karena desa-desa yang berhubungan dengan kelompok gangster serta dukungannya terhadap pemerintah China.

Pada 21 Juli lalu, sekelompok orang tak dikenal berkaus putih bersenjatakan tongkat kayu dan besi menyerang pengunjuk rasa berbaju hitam dan warga secara membabi buta di Stasiun MTR Yuen Long. (has/has)