Dikritik Publik, Inggris akan Perbanyak Tes Corona

CNN Indonesia | Jumat, 03/04/2020 03:59 WIB
Dikritik Publik, Inggris akan Perbanyak Tes Corona Ilustrasi pengecekan kesehatan akibat virus corona. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Inggris menjanjikan perluasan fasilitas pemeriksaan virus corona. Langkah tersebut diambil setelah banyak pihak mengkritik rendahnya kasus infeksi Covid-19 di Inggris dibandingkan negara lain.

Para menteri menuai kritik dari publik lantaran rendahnya kapasitas pengetesan terhadap masyarakat luas. Mereka juga mendapat teguran karena kurangnya pemeriksaan kesehatan terhadap tenaga kesehatan yang berjaga di garda depan untuk menangani Covid-19.

Menteri Dalam Negeri Robert Jenrick kepada Sky TV mengatakan, pemerintah akan meningkatkan kapasitas pengetesan secara bertahap dalam beberapa hari ke depan. Pemeriksaan yang lebih agresif akan dimulai pada pertengahan April sebanyak 25 ribu tes per hari.


"Kami pikir dalam beberapa hari ke depan kami dapat meningkatkan kapasitas saat ini, dari 12.750 menjadi 15 ribu. Kemudian di pertengahan April kita berharap dapat mencapai 25 ribu tes," kata Jenrick seperti dikutip dari AFP.

Jenrick mengakui Inggris harus meningkatkan kapasitas pengetesan secara signifikan. Namun, ia mengungkapkan kurangnya fasilitas pemeriksaan merupakan imbas dari tingginya permintaan alat tes di negara-negara lain akibat pandemi global.

Pejabat publik senior, Michael Gove, juga mengklaim rendahnya jumlah pengetesan disebabkan oleh kurangnya "pereaksi kimia" yang dibutuhkan dalam melakukan tes. Namun, klaimnya tersebut bertentangan dengan keadaan yang terlihat pada sektor industri kimia Inggris.

Sejauh ini baru 143 ribu warga Inggris yang telah menjalani tes virus corona. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan negara tetangga, Jerman yang mampu melakukan pengetesan hingga 70 ribu setiap harinya.

Johns Hopkins University mencatat, hingga kini, jumlah kasus corona terkonfirmasi di Jerman telah lebih dari 71.800, dan angka kematiannya telah menembus 750.

Sementara itu, sebanyak 25.499 orang di Inggris terinfeksi virus corona. Perdana Menteri Boris Johnson, Menteri Kesehatan Matt Hancock, dan Pangeran Charles masuk dalam daftar pasien positif Covid-19.

Kementerian kesehatan Inggris mencatat jumlah pasien yang meninggal berjumlah 1.789 orang, termasuk anak lelaki berusia 13 tahun yang meninggal Senin (31/3) kemarin di Rumah Sakit King's College, London.

Ismail Mohamed Abdulwahab, dilaporkan meninggal beberapa hari setelah dinyatakan positif mengidap virus corona. Padahal ia tidak memiliki penyakit bawaan yang dapat memperparah Covid-19 yang menginfeksinya.

Meski demikian, data yang dihimpun Badan Statistik Nasional (ONS) menunjukkan, angka kematian di Inggris dan Wales lebih tinggi 24 persen daripada jumlah yang dinyatakan kemenkes.

Perbedaan angka kematian tersebut dikarenakan pemerintah hanya menghitung pasien meninggal yang ada di rumah sakit. Sementara, ONS juga menghitung kematian di kalangan komunitas lain. (ang/evn)