Penduduk Israel Bakar Ladang Warga Palestina di Tepi Barat

Middle East Monitor, CNN Indonesia | Jumat, 19/06/2020 16:25 WIB
Israeli security forces take position during clashes with Palestinian protestors in the West Bank town of Tulkarem, following a demonstration against US President Donald Trump's decision to recognise Jerusalem as the capital of Israel, on December 11, 2017.  / AFP PHOTO / JAAFAR ASHTIYEH Ilustrasi polisi perbatasan Israel di Tepi Barat. (AFP PHOTO / JAAFAR ASHTIYEH)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah warga Israel dilaporkan dengan sengaja membakar ladang di desa warga Palestina di Desa Burin, sebelah selatan Kota Nablus, Tepi Barat, pada Kamis (18/6) kemarin.

Akan tetapi, warga Palestina yang hendak memadamkan api justru ditembaki oleh aparat keamanan Israel menggunakan peluru karet.

Seperti dilansir Middle East Monitor yang mengutip Times of Israel, Jumat (19/6), menurut laporan kelompok pemantau hak asasi manusia Israel, Yesh Din, sebanyak 10 orang Yahudi warga pemukiman ilegal Yitzar dekat wilayah Givat Ronen yang melakukan pembakaran ladang itu.


Sepuluh orang yang mengenakan penutup wajah itu sempat melempari batu ke arah proyek pembangunan, kemudian menyulut api dan kemudian kabur ke arah kompleks pemukiman ilegal Har Bracha.

Mereka seolah menggunakan alasan suhu panas yang terjadi di kawasan itu sebagai dalih untuk membakar ladang.

Wilayah itu adalah bagian dari Tepi Barat yang diduduki dan dikendalikan Israel, sejak menang dalam Perang Enam Hari pada 1967.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berencana memaparkan rencana pencaplokan wilayah Lembah Yordania dan Yerikho pada 1 Juli mendatang. Hal itu membuat tensi di kawasan Timur Tengah semakin panas, di samping perang saudara di Suriah dan Libya.

Presiden Palestina, Mahmud Abbas, menyatakan sudah memutus seluruh perjanjian yang diteken dengan Israel akibat rencana Netanyahu. Hal itu juga membuat faksi-faksi di Palestina, yakni Hamas, Fatah dan Front Pembebasan Rakyat Palestina (PFLP) mulai menyatakan akan melawan hingga titik darah penghabisan jika Netanyahu melanjutkan rencana itu.

(ayp)

[Gambas:Video CNN]