AS Tambah Investasi Vaksin Corona Johnson & Johnson Rp14,6 T

CNN Indonesia | Kamis, 06/08/2020 03:43 WIB
Pemerintah AS kembali menyuntikkan modal senilai US$1 miliar atau setara Rp14,6 triliun untuk mempercepat pengembangan vaksin corona buatan Johnson & Johnson. Pemerintah AS kembali menyuntikkan modal senilai US$1 miliar atau setara Rp14,6 triliun untuk mempercepat pengembangan vaksin corona buatan Johnson & Johnson. Ilustrasi. (iStockphoto/Vladans).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali menambah investasi untuk pengembangan vaksin corona buatan Johnson & Johnson (J&J) senilai US$1 miliar atau setara Rp14,6 triliun (asumsi kurs Rp14.600 per dolar AS).

Investasi yang diumumkan pada Rabu (5/8) waktu setempat itu disebut akan mengamankan produksi hingga 100 juta dosis vaksin.

Dilansir dari AFP, J&J melalui anak usahanya Janssen sebelumnya telah mengantongi investasi senilai US$456 juta pada Maret lalu.


Suntikan modal baru itu diharapkan dapat membantu perusahaan untuk mempercepat produksi vaksin. Sehingga, saat perusahaan telah mengantongi izin yang diperlukan, perusahaan dapat segera mengedarkan vaksin tersebut.

Pemerintah AS juga memiliki opsi untuk menambah pesanan sehingga bisa mengedarkan vaksin ke 300 juta orang.

Dengan kesepakatan di bawah "Operation Warp Speed" itu, pemerintahan Donald Trump telah menghabiskan US$9,4 miliar dalam kesepakatan produksi 700 juta dosis vaksin corona dengan 5 perusahaan.

Saat ini, vaksin Moderna menjadi satu dari tiga vaksin buatan barat yang memasuki tahap uji klinis terhadap manusia.

Pakar penyakit infeksi AS yang juga penasihat kesehatan Gedung Putih Anthony Faucy mengaku secara berhati-hati optimis akan keberhasilan penemuan vaksin corona.

"Pada waktu tertentu jelang akhir tahun, awal 2021, kita akan mengetahui apakah mereka memiliki vaksin yang efektif dan aman," ujar Faucy.

Selain itu pengembangan vaksin, AS juga telah menghabiskan miliaran dolar untuk membangun pabrik perusahaan yang memproduksi jarum suntik hingga pengembangan perawatan.

Tak hanya itu, negeri Paman Sam juga memborong hampir seluruh stok obat antiviral remdesivir yang akan diproduksi hingga September. Sebagai catatan, remdesivir digunakan untuk pengobatan pasien covid-19.

Di Indonesia, PT Bio Farma (Persero) saat ini masih melakukan uji klinis tahap III vaksin corona buatan perusahaan China Sinovac. Jika uji coba lancar, vaksin akan diproduksi mulai awal 2021.

(afp/sfr)

[Gambas:Video CNN]