Dugaan Penyelewengan Pajak Trump Diusut Lagi Jelang Pilpres

CNN Indonesia | Jumat, 07/08/2020 08:05 WIB
Jaksa Manhattan kembali mengusut dugaan penyimpangan pajak yang dilakukan Presiden AS, Donald Trump. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (AP/Alex Brandon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Proses penyelidikan terhadap dugaan penyelewengan pajak yang dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilanjutkan kembali menjelang pemilihan presiden pada November mendatang.

Jaksa Distrik Manhattan, Kota New York, Cyrus R. Vance, Jr., menyatakan mendesak hakim untuk menerbitkan surat perintah supaya Presiden Trump memberikan data pajak.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (6/8), Cyrus mengatakan laporan pajak Trump patut diselidiki karena dia mendapat laporan masyarakat tentang "aksi kejahatan yang sangat luas dan dilakukan bertahun-tahun oleh Organisasi Trump".


Vance yang merupakan pendukung Partai Demokrat mengajukan permintaan itu menjelang pemilihan presiden yang digelar November mendatang. Dia mencoba mendapatkan laporan pajak pribadi dan perusahaan Trump selama delapan tahun ke belakang.

Akan tetapi, Cyrus tidak membeberkan alasan lain untuk membuka data pajak itu, selain dugaan Trump membayar uang tutup mulut kepada dua perempuan yang mengaku mempunyai hubungan gelap dengannya, yakni Karen McDougal dan Stephanie Gregory Clifford alias Stormy Daniels.

Menurut Cyrus, dewan juri pada pengadilan memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan kompleks terkait keuangan Trump.

Menurut dia, meski seluruh dokumen pajak Trump diurus oleh akuntan yang ditunjuk secara khusus, tetapi ada dugaan "berdasarkan laporan masyarakat bahwa telah terjadi tindakan kejahatan" di perusahaan Trump yang dilakukan beberapa dasawarsa silam.

Cyrus lantas mengutip laporan surat kabar The Washington Post yang melaporkan dugaan Trump diduga menggelembungkan nilai modal yang mereka punya dari yang sebenarnya untuk memikat rekan bisnis.

Selain itu, Cyrus mendasarkan penyelidikannya dari pengakuan mantan kuasa hukum Trump, Michael Cohen, yang mengatakan mantan kliennya selalu membual seolah-olah modalnya sangat besar, tetapi lantas merekayasa laporan pajak dengan cara mereduksi nilainya.

Selain itu, Cyrus juga menyelidiki dugaan kejahatan perbankan atau asuransi yang dilakukan perusahaan Trump, berdasarkan pengakuan Cohen.

"Laporan ini membeberkan transaksi bisnis melibatkan sejumlah individu dan perusahaan di New York County, tetapi pada saat itu dilakukan di luar batas negara bagian New York. Perbuatan yang terlihat seperti kejahatan ini dilakukan di luar batas, tetapi dilakukan dengan pola yang hampir sama," kata Cyrus.

Cohen saat ini menjalani hukuman tiga tahun tahanan rumah setelah mengaku bersalah atas penyalahgunaan anggaran kampanye Trump, berbohong di hadapan dewan dan penggelapan pajak.

Cohen adalah orang yang diduga mengatur supaya Karen dan Stormy tidak mengungkap hubungan gelap mereka dengan Trump sepanjang masa kampanye pilpres 2016. Namun, Trump sampai hari ini tetap membantah memiliki hubungan di luar nikah dengan kedua perempuan itu.

Infografis Para Kandidat Pilpres AS 2020

Tim kuasa hukum Trump menuduh Cyrus melakukan hal itu dengan niat buruk dan mencoba mempermalukan presiden.

Menanggapi hal itu, Trump menyatakan hal itu hanya cara lain yang dilakukan Partai Demokrat untuk menjatuhkannya.

"Ini hanya kelanjutan dari pembunuhan karakter. Ini kerjaan Demokrat. Mereka gagal dengan Mueller. Mereka gagal dengan semuanya. Mereka gagal dengan Kongres. Mereka gagal dalam setiap tahapan permainan. Hal ini terjadi sejak 3,5 sampai 4 tahun," ujar Trump.

(Associated Press/ayp)

[Gambas:Video CNN]