ANALISIS

Duet Joe Biden-Kamala Harris dan Tantangan Suara Minoritas

ans & CNN, CNN Indonesia | Kamis, 13/08/2020 12:04 WIB
Formula pasangan Capres dan Cawapres AS dari Partai Demokrat, Joe Biden-Kamala Harris, belum jaminan bisa mudah meraih suara etnis minoritas. Calon presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden (berpidato) dan kandidat wakil presiden Kamala Harris. (AP/Carolyn Kaster)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kamala Harris mencuri perhatian setelah kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Joe Biden, memilihnya sebagai perempuan dari etnis minoritas pertama yang menjadi calon wakil presiden.

Duet Biden dan Harris akan maju sebagai kandidat dari Partai Demokrat dalam pemilu pada 3 November mendatang.

Biden menjatuhkan pilihan pada Harris di antara empat kandidat perempuan kulit berwarna. Sumber terdekat mengatakan tiga politikus perempuan yang sempat menjadi pertimbangkan Biden yakni Senator Tammy Duckworth, Gubernur New Mexico Michelle Lujan Grisham, dan Val Demings.


Dilansir dari CNN, Rabu (12/8), sebelum Biden mengumumkan Harris sebagai pasangan dalam pilpres, hanya ada dua perempuan yang pernah menjadi calon wakil presiden untuk partai besar AS, yakni Gubernur Alaska, Sarah Palin, pada 2008 dan anggota Dewan Perwakilan dari New York, Geraldine Ferraro, pada 1984.

Sangat mungkin bahwa kekuatan politik yang akan mendukung Harris lebih besar dari yang terlihat saat ini. Jika Biden menang dalam pemilu November, dia akan mewarisi negara yang sedang dikepung beberapa masalah penting seperti pandemi virus corona, resesi yang tercatat paling dalam sejak Depresi Hebat pada 1930-an, serta rasisme dan kekerasan sistemik di tubuh kepolisian.

Artinya, Harris kemungkinan juga akan memikul banyak tanggung jawab di Gedung Putih untuk membereskan seluruh persoalan yang membelit masyarakat AS.

Menurut Kepala Departemen Program Kajian ASEAN The Habibie Center, Ibrahim Almuttaqi, pemilihan Kamala Harris sebagai calon wakil presiden Joe Biden menghadirkan pilihan segar dan bisa menarik bagi para pemilih, yang sejauh ini mungkin merasa aspirasinya tidak terwakili oleh dominasi politikus ras kulit putih dalam pemilu.

Dia juga menyatakan sebagai wanita kulit hitam pertama berdarah Jamaika dan India yang mencalonkan diri, pencalonan Harris tentu menjadi momentum bersejarah.

"Secara signifikan, mengingat usia Joe Biden, kecil kemungkinan dia akan mencalonkan diri lagi pada 2024, menjadikan Kamala Harris salah satu pelopor awal untuk menjadi 'pemimpin negara bebas' berikutnya dalam waktu empat tahun," ujar Ibrahim melalui pesan tertulis kepada CNNIndonesia.com, Rabu (12/8).

Democratic presidential candidate former Vice President Joe Biden's running mate Sen. Kamala Harris, D-Calif., speaks during a campaign event at Alexis Dupont High School in Wilmington, Del., Wednesday, Aug. 12, 2020. (AP Photo/Carolyn Kaster)Calon wakil Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Kamala Harris. (AP/Carolyn Kaster)

Menurut Ibrahim, satu hal yang perlu diperhatikan yakni amat keliru jika banyak orang berasumsi bahwa pemilih perempuan dan etnis minoritas secara otomatis akan mendukung Harris.

Meskipun latar belakangnya akan menarik perhatian kedua kelompok pemilih itu, tetapi menurut Ibrahim, Harris masih perlu meyakinkan pemilih perempuan dan etnis minoritas bahwa dia layak mendapatkan suara mereka.

Ibrahim mengatakan hal itu adalah sesuatu yang gagal dilakukan Hillary Clinton saat maju menjadi capres dari Partai Demokrat dalam pilpres empat tahun lalu.


Bukan kandidat terkuat

Di sisi lain, Ibrahim menilai Joe Biden bukanlah kandidat terkuat dalam pemilu AS 2020, dan dia memiliki sejumlah kekurangan.

Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan Biden bukanlah pembicara publik yang baik. Sebab dia cenderung membuat kesalahan dan belum menawarkan kebijakan kampanye apapun sejauh ini.

"Hanya karena semua sorotan tertuju pada Donald Trump dan kepresidenannya yang kontroversial, (lalu) para pemilih dapat mengabaikan kekurangan Biden. Saya percaya Harris memiliki kualitas untuk menutupi kekurangan Biden," terangnya.

"Sebagai seorang senator dan mantan jaksa agung California, dia memiliki banyak keterampilan dan pengalaman yang akan sangat penting jika Biden terpilih sebagai presiden," tambahnya.

Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan selama beberapa bulan terakhir tentu saja Harris terkesan dengan berbagai penampilan Biden. Tidak hanya selama pemilihan pendahuluan Demokrat, tapi juga selama sesi dengar pendapat di Kongres (Congressional Hearings).

"Dalam hal ini, tidak mengherankan meskipun bentrok dengan Biden selama debat, dia tetap merasa Biden adalah pilihan terbaik untuk menjadi wakilnya".

Ibrahim juga mengakui bahwa secara tradisional, wakil presiden AS hanya memiliki sedikit pengaruh signifikan terhadap kebijakan pemerintah. Itu bisa dilihat dari peran terbatas yang dimainkan Wakil Presiden, Mike Pence, sejauh ini dalam pemerintahan Presiden Donald Trump.

Akan tetapi, Ibrahim tak menampik bahwa kemenangan Biden-Harris menawarkan dinamika menarik, karena sangat mungkin bahwa Biden tidak akan mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, dan membuat Harris hampir dipastikan masuk dalam daftar calon presiden selanjutnya.

"Ini berarti dia memiliki pengaruh lebih dari wakil presiden sebelumnya di masa lalu," ujarnya.

Kemudian di sisi diplomatik, menurut Ibrahim, Harris tidak dikenal kuat dalam kebijakan luar negeri, dan itu akan memakan waktu lama serta membutuhkan banyak upaya untuk memperbaiki kerusakan yang dilakukan pemerintahan Trump terhadap kepentingan dan citra AS di dunia.

(ayp)

[Gambas:Video CNN]