Putusan Hakim Janggal, Keluarga Breonna Minta Rekaman Sidang

CNN Indonesia | Sabtu, 26/09/2020 09:30 WIB
Breonna Taylor ialah seorang wanita kulit hitam yang tewas ditembak polisi di dalam apartemen pribadinya. Putusan hakim masih terasa janggal bagi keluarga. Ilustrasi. (Skitterphoto/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Keluarga Breonna Taylor mendesak pemerintah Kentucky merilis semua rekaman, data-data kepolisian, serta transkrip dari proses persidangan yang membuat petugas polisi bebas tuduhan setelah mendobrak pintu depan rumah Breonna Taylor dan menembak mati perempuan berusia 26 tahun itu di apartemen pribadinya.

"Banyak sekali kesalahan. Kami telah melihat begitu banyak hal sedikit demi sedikit yang menyimpang sepanjang kasus ini," kata Sam Aguiar, pengacara keluarga, seperti yang dikutip dari AFP pada Sabtu (26/9).

Desakan disampaikan sebagai bentuk kekecewaan dan amarah mereka bersama banyak orang lainnya yang telah menyerukan keadilan bagi Breonna Taylor enam bulan terakhir.


Mereka bersama pengunjuk rasa berjanji untuk tetap menggelar aksi dan berada di jalan sampai semua petugas kepolisian yang terlibat dipecat atau seseorang dijerat dengan pasal pembunuhan.

Pada Jumat (25/9) malam waktu AS, berbagai kelompok termasuk Ibu Breonna Taylor menggelar aksi di Louisville.

Aksi berlangsung damai meski pada satu titik, polisi sempat menembakkan perangkat flash bang untuk menertibkan pedemo. Dua orang ditangkap akibat hal itu.

Sebelumnya, pengacara dan keluarga sudah mengungkapkan kekecewaan karena tak ada pertanggungjawaban atas kematian Breonna Taylor.

"Saya wanita kulit hitam yang marah. Saya tidak marah karena alasan yang kalian harapkan. Tapi marah karena perempuan kulit hitam terus meninggal di tangan polisi, begitu juga laki-laki kulit hitam," kata ibunda Breonna Taylor, Tamika Palmer, seperti dilansir AP.

Tamika juga mengaku kecewa terhadap sistem peradilan pidana dan Jaksa Agung negara bagian, Daniel Cameron, mengatakan para petugas tidak dijerat pasal pembunuhan sebab tembakan yang menewaskan Breonna Taylor merupakan perlindungan diri sendiri.

Menurut Tamika, pandangan Cameron menjadi akhir dari rantai yang mematikan Breonna Taylor, mulai dari surat perintah tanpa ketuk pintu dari penyelidikan narkotika, yang kemudian ditandatangani hakim, hingga penyerbuan di apartemen Taylor.

Surat perintah itu padahal untuk seorang tersangka yang tidak tinggal di sana dan tak ada narkotika yang ditemukan di dalamnya.

Cameron, jaksa agung kulit hitam pertama di negara bagian itu, mengaku memahami penderitaan keluarga.

"Setiap orang berhak atas pendapat mereka, tetapi jaksa dan anggota Grand Jury terikat oleh fakta dan hukum," kata juru bicara Elizabeth Kuhn dalam sebuah pernyataan.

Kasus Taylor telah menjadi seruan bagi pengunjuk rasa di seluruh negeri yang menyerukan rasisme dan menuntut reformasi polisi.

(chr/ard)

[Gambas:Video CNN]