Israel Larang Demo Akibat Corona, Warga Protes

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 04/10/2020 06:40 WIB
Warga protes pelarangan demo saat pandemi corona karena dianggap membungkam kritik terhadap Netanyahu yang tengah jalani sidang korupsi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (AP/DEBBIE HILL)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diprotes para penentangnya setelah memberlakukan kebijakan pelarangan demonstrasi terkait pandemi Covid-19, Sabtu (3/10) malam.

Warga Israel yang menentang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menganggap kebijakan itu sebagai langkah pemerintah membungkam kritik terhaap pemimpin negara itu.

Aksi demonstrasi itu tetap berlangsung meski pemerintah setempat telah melakukan pembatasan di area publik. Di Tel Aviv, para demonstran melakukan beberapa pawai serentak di berbagai bagian kota tepi laut Mediterania, seperti dilaporkan AFP.


Dalam unjuk rasa itu, para demonstran tampak mengenakan masker wajah. Tapi, berdasarkan pernyataan seorang polisi, merkea telah melanggar untuk menjaga jarak sosial dan pembatasan jumlah peserta demonstrasi. Namun, polisi tidak memperkirakan berapa banyak yang terlibat.

Pada hari Rabu lalu, Parlemen Israel menyetujui undang-undang yang membatasi demonstras. Pembatasan ini sebagai bagian dari langkah keadaan darurat terkait penularan virus corona.

Pada hari Jumat, Menteri Pariwisata Asaf Zamir, dari partai Biru dan Putih berhaluan tengah mundur dari pemerintahan koalisi Netanyahu karena pemberlakukan kebijakan itu.

Ia mengumumkan keputusannya itu di Twitter. Menurutnya, kebijakan itu diambil Netanyahu karena ia khawatir gelombang protes yang lebih besar terkait dengan sidang korupsi yang sedang ia hadapi.

"Saya tidak mau menunggu lebih lama lagi terhadap kebijakan pembatasan berdemonstrasi," tulisnya. "Karena itu saya harus mengikuti hati nurani saya."

Pemimpin Partai Biru dan Putih Benny Gantz menunjuk Orit Farkash Hacohen dari partai untuk menggantikan Zamir. Keputusan ini dianggap tidak membahayakan koalisi partai dengan pemerintah. Sementara pengamat berspekulasi ada kemungkinanan pengunduran diri lain menyusul.

"Kami bergabung dengan pemerintah untuk mengendalikan virus korona, bukan untuk mengekang demokrasi atau supremasi hukum," kata Gantz.

Kebijakan terbaru melarang demonstran melakukan perjalanan lebih dari satu kilometer (0,6 mil) untuk menghadiri protes. Tetapi, para demonstran mengakali aturan ini dengan berkumpul di lokasi protes dekat rumah mereka. Mereka saling bertukar kabar lewat media sosial, seperti dilaporkan surat kabar sayap kiri Haaretz, Jumat (1/10).

Polisi memberlakukan pemeriksaan ketat terhadap kartu identitas setiap orang. Pihak berwenang juga menerapkan denda bagi mereka yang ditemukan melanggar kebijakan pembatasan dan menangkap mereka yang mengganggu ketertiban umum.

Tidak disebutkan berapa banyak penangkapan yang telah dilakukan. Tetapi, polisi mengklaim telah mengeluarkan "ratusan" surat denda atas berbagai pelanggaran peraturan darurat.

Di Yerusalem, media Israel memperkirakan sekitar 200 orang melakukan protes di luar kediaman resmi Netanyahu. Jumlah peserta demonstrasi ini sangat kontras ketimbang ribuan orang yang hadir pada pekan sebelumnya.

Protes juga dilakukan di sejumlah kota lain.

Israel telah memberlakukan pembatasan sejak 18 September lalu. Namun, saat itu aksi protes masih dianggap sebagai aktivitas yang bisa dilakukan. Namun, pada pemungutan suara parlemen hari Rabu lalu, kegiatan ini ikut dilarang.

Undang-undang baru memberi pemerintah kewenangan untuk mengumumkan "keadaan darurat khusus yang disebabkan oleh pandemi virus corona". Status darurat ini akan terus diperbarui tiap minggu.

Saat ini ada lebih dari 260.000 infeksi virus corona di Israel dengan 1.600 kematian. Total populasi penduduk Israel sendiri sembilan juta orang. Israel saat ini memiliki tingkat infeksi mingguan per kapita tertinggi di dunia.

(eks)

[Gambas:Video CNN]