AS Sebut Butuh Indonesia untuk Lawan Dominasi China-Rusia

CNN Indonesia | Rabu, 21/10/2020 12:13 WIB
Menhan AS Mark Esper mengatakan perlu membangun hubungan lebih dekat dengan Ilustrasi militer Amerika Serikat. (Andrew Craft/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper pada Selasa (20/10) mengungkapkan inisiatif baru untuk memperkuat dan memperluas aliansi dengan negara demokrasi yang berpikiran sama untuk melawan Rusia dan China.

Dia turut menggarisbawahi perlunya membangun hubungan yang lebih dekat dengan "negara demokrasi yang berpikiran sama seperti India dan Indonesia".

Esper mencatat, dia telah bertemu dengan Menhan Indonesia Prabowo Subianto pada Senin lalu dan akan mengunjungi India pada pekan depan.


"Mereka semua mengakui apa yang sedang dilakukan China," kata Esper.

Esper mengatakan Pentagon secara sistematis akan memantau dan mengelola hubungannya dengan negara-negara mitra yang bertujuan untuk menemukan cara guna mengoordinasikan militer dan memajukan penjualan senjata AS.

Inisiatif itu disebut Panduan untuk Pembangunan untuk Aliansi dan Kemitraan (GDAP). Inisiatif tersebut muncul hanya dua pekan sebelum pemilihan umum AS yang apabila Presiden Donald Trump kalah, publik akan menyaksikan Esper diganti pada Januari.
 
"Jaringan sekutu dan mitra Amerika memberi kita keuntungan asimetris yang tidak dapat ditandingi oleh musuh kita," kata Esper. Dia menyebut jaringan itu sebagai "tulang punggung tatanan berbasis aturan internasional".
 
"Contoh seperti ini menggambarkan pentingnya menyelaraskan dengan negara-negara yang berpikiran sama, besar dan kecil, untuk mempertahankan tatanan bebas dan terbuka yang telah melayani kita semua dengan sangat baik selama beberapa dekade," kata Esper seperti dilansir dari AFP.
 


"China dan Rusia mungkin memiliki kurang dari sepuluh sekutu yang digabungkan," ucapnya.
 
Dia menuturkan China menggunakan paksaan dan perangkap keuangan untuk membangun aliansi dengan negara-negara lemah seperti Myanmar, Kamboja, dan Laos.
 
"Semakin kecil negara dan semakin besar kebutuhannya, semakin berat tekanan dari Beijing," kata Esper.
 
Pernyataan tersebut merujuk pada kunjungan yang telah dilakukan Esper untuk membangun hubungan pertahanan dengan Malta, Mongolia, dan Palau.

Selain itu, juga terkait rencana AS dalam menghadirkan pertahanan yang lebih besar di Eropa Timur, termasuk pangkalan pasukan AS di Polandia.

Esper mengatakan bagian penting dari upaya ini adalah untuk memperluas penjualan senjata AS, untuk membantu sekutu meningkatkan kemampuan pertahanan, dan untuk mendukung industri pertahanan AS dalam melawan persaingan dengan Moskow dan Beijing.
 


"Kita harus bersaing dengan China dan Rusia yang industri milik negaranya dapat mempercepat ekspor militer dengan cara yang kita tidak bisa, dan kita tidak pernah mau, dalam banyak kasus," tuturnya.
 
Esper mengaku telah mengambil langkah-langkah untuk meredakan pembatasan ekspor sistem senjata "kritis" dan mempercepat persetujuan, dan akan menggunakan GDAP untuk mengidentifikasi peluang penjualan senjata dan melindungi pasar AS.
 
Dia mencontohkan pelonggaran pembatasan AS baru-baru ini pada ekspor drone medan perang, di mana AS dapat menjualnya ke Taiwan dan Uni Emirat Arab.

(ans/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK