Muchammad Machally merasa peringatan Idulfitri di Jerman tidak meriah sebagaimana di kampung halamannya di Pemalang, Jawa Tengah.
Tak ada gema takbir, halalbihalal, saling meminta dan memberi maaf serta bercengkerama bersama sanak saudara.
"Idulfitri di sini jujur enggak kerasa kayak Idulfitri. Hampir biasa aja," katanya, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Minggu, (2/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mac, begitu sapaan akrabnya, hanya bisa melakukan halalbihalal dengan keluarga via video call. Meski haru, ada hal yang mampu memantik rasa bahagia dan syukur saat ia dapat berkumpul dengan rekannya sesama warga Indonesia.
Gambaran suasana itu adalah Idulfitri saat Jerman belum dihantam pandemi virus corona, tepatnya pada 2018. Di tahun itu pula, Mac terpilih menjadi salah satu relawan sosial untuk kaum difabel.
"(Di sana) aku support kegiatan mereka sehari-hari dan kerja kreatif mereka," kata Mac.
Senyum dan kepedulian orang Indonesia menjadi hal yang dirindukan Machally. Seperti saat bertamu, tuan rumah akan memastikan tamu makan. Mereka, sambungnya, harus benar-benar kenyang.
"(Saat) Idulfitri kalau kamu kelihatan enggak bahagia, orang-orang bakal bertanya-tanya dan peduli agar kamu tidak melewatkan kebahagiaan hari besar ini," kata Mac.
Berbeda dengan negara lain, durasi berpuasa dalam sehari di Jerman cukup lama. Alhasil Mac memutuskan untuk mengikuti jam puasa di Mekkah, Arab Saudi.
Ramadan di tengah pandemi juga menghilangkan sebuah kegiatan, yakni buka bersama. Sebab kegiatan itu yang biasanya dijadikan ajang silaturahmi antar-WNI.
Akibat lonjakan kasus infeksi Covid-19 di Jerman, membuat pemerintah melarang ibadah tarawih di masjid. Selain itu, mereka juga menerapkan jam malam mulai dari pukul 21.00 hingga 06.00 waktu setempat.
Warga boleh bepergian ketika jam malam hanya untuk keperluan mendesak atau urusan pekerjaan.
Pukul 21.00 waktu setempat, supermarket dan pertokoan harus berhenti beroperasi sebagai antisipasi penyebaran virus corona.
Sementara transportasi publik pukul 00.00 sudah tidak tersedia. Pada situasi normal, kendaraan umum di Jerman beroperasi 24 jam.
Sejak awal tiba di Jerman, Machally memutuskan untuk tinggal lebih lama di negara itu. Ia justru tak ingin bolak-balik pulang ke Indonesia.
Mac juga sudah mempersiapkan diri merayakan lebaran di negeri mayoritas non-Muslim itu.
"Sejak awal aku pengen enggak pulang selama dua tahun. Tapi toh kalaupun mau pulang di tengah pandemi rasanya sulit, karena takut ke Jermannya lagi repot urus tes, vaksinasi dan sebagainya," terang Mac.
Di Jerman, ia tinggal bersama kakaknya. Rencana Mac untuk merayakan Lebaran di Jerman begitu sederhana: ingin menyantap makanan khas Indonesia.
"Kalo rencana Idul Fitri sama temen Indonesia kita juga mau kegiatan kaya di Indonesia, makan sate atau opor ketupat," kata Mac.
Jakarta, CNN Indonesia --
Muchammad Machally merasa peringatan Idulfitri di Jerman tidak meriah sebagaimana di kampung halamannya di Pemalang, Jawa Tengah.
Tak ada gema takbir, halalbihalal, saling meminta dan memberi maaf serta bercengkerama bersama sanak saudara.
"Idulfitri di sini jujur enggak kerasa kayak Idulfitri. Hampir biasa aja," katanya, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Minggu, (2/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mac, begitu sapaan akrabnya, hanya bisa melakukan halalbihalal dengan keluarga via video call. Meski haru, ada hal yang mampu memantik rasa bahagia dan syukur saat ia dapat berkumpul dengan rekannya sesama warga Indonesia.
Gambaran suasana itu adalah Idulfitri saat Jerman belum dihantam pandemi virus corona, tepatnya pada 2018. Di tahun itu pula, Mac terpilih menjadi salah satu relawan sosial untuk kaum difabel.
"(Di sana) aku support kegiatan mereka sehari-hari dan kerja kreatif mereka," kata Mac.
Senyum dan kepedulian orang Indonesia menjadi hal yang dirindukan Machally. Seperti saat bertamu, tuan rumah akan memastikan tamu makan. Mereka, sambungnya, harus benar-benar kenyang.
"(Saat) Idulfitri kalau kamu kelihatan enggak bahagia, orang-orang bakal bertanya-tanya dan peduli agar kamu tidak melewatkan kebahagiaan hari besar ini," kata Mac.
Ikut Jadwal Mekkah
Ilustrasi situasi jalanan di Jerman. (iStockphoto)
Berbeda dengan negara lain, durasi berpuasa dalam sehari di Jerman cukup lama. Alhasil Mac memutuskan untuk mengikuti jam puasa di Mekkah, Arab Saudi.
Ramadan di tengah pandemi juga menghilangkan sebuah kegiatan, yakni buka bersama. Sebab kegiatan itu yang biasanya dijadikan ajang silaturahmi antar-WNI.
Akibat lonjakan kasus infeksi Covid-19 di Jerman, membuat pemerintah melarang ibadah tarawih di masjid. Selain itu, mereka juga menerapkan jam malam mulai dari pukul 21.00 hingga 06.00 waktu setempat.
Warga boleh bepergian ketika jam malam hanya untuk keperluan mendesak atau urusan pekerjaan.
Pukul 21.00 waktu setempat, supermarket dan pertokoan harus berhenti beroperasi sebagai antisipasi penyebaran virus corona.
Sementara transportasi publik pukul 00.00 sudah tidak tersedia. Pada situasi normal, kendaraan umum di Jerman beroperasi 24 jam.
Sejak awal tiba di Jerman, Machally memutuskan untuk tinggal lebih lama di negara itu. Ia justru tak ingin bolak-balik pulang ke Indonesia.
Mac juga sudah mempersiapkan diri merayakan lebaran di negeri mayoritas non-Muslim itu.
"Sejak awal aku pengen enggak pulang selama dua tahun. Tapi toh kalaupun mau pulang di tengah pandemi rasanya sulit, karena takut ke Jermannya lagi repot urus tes, vaksinasi dan sebagainya," terang Mac.