Beda Siasat RI dan Malaysia Tangani Lonjakan Covid-19

CNN Indonesia | Jumat, 18/06/2021 13:28 WIB
Dalam waktu berdekatan, RI dan Malaysia sama-sama memperpanjang pembatasan pergerakan masyarakat dan aktivitas perekonomian menyusul peningkatan Covid-19. Ilustrasi lockdown di Malaysia. (Reuters/Lim Huey Teng)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam waktu berdekatan, Indonesia dan Malaysia sama-sama memperpanjang pembatasan pergerakan masyarakat dan aktivitas perekonomian menyusul peningkatan kembali infeksi Covid-19.

Pemerintah Indonesia memperpanjang lagi pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro mulai 15-28 Juni setelah memberlakukannya pada awal bulan ini.

Pada Mei lalu, Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN), Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa perpanjangan PPKM mikro dilakukan demi meredam tingkat penularan virus corona yang kembali melonjak di beberapa daerah Indonesia.


Sementara itu, Malaysia juga memperpanjang kembali penguncian wilayah (lockdown) total secara nasional selama dua pekan hingga 28 Juni setelah berlaku sejak 1 Juni lalu.

Di awal Juni, Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin, menuturkan lockdown total yang lebih ketat ini dilakukan setelah -19 di Negeri Jiran mencapai lebih dari 7.000 selama tiga hari berturut-turut hingga Kamis (27/5).

Angka penularan itu menjadikan Malaysia sebagai negara dengan kasus harian corona tertinggi di Asia Tenggara saat ini, mengalahkan Indonesia dan Filipina yang kerap mencatat angka penularan harian tertinggi.

Berikut perbedaan kebijakan Indonesia dan Malaysia dalam menghadapi lonjakan penularan corona.

Lockdown Malaysia atau Perintah Pembatasan Pergerakan (MCO)

Setelah dua pekan lockdown ketat berlangsung, Kuala Lumpur memutuskan memperpanjang MCO pada Jumat pekan lalu hingga 28 Juni mendatang.

Malaysia memperpanjang MCO ini meski angka infeksi harian telah turun menjadi sekitar 5.000 kasus.

Menteri Senior untuk Urusan Keamanan Malaysia, Ismail Sabri Yaakob, menegaskan Negeri Jiran akan tetap menerapkan lockdown hingga total kasus Covid-19 harian di bawah 4.000.

MCO melarang semua kegiatan sosial dan ekonomi non-esensial beroperasi. Dalam fase ini, hanya kegiatan ekonomi dan layanan sosial esensial yang bisa beroperasi.

Dewan Keamanan Nasional Malaysia mengumumkan daftar 17 sektor dan kegiatan yang masih boleh berlangsung selama MCO berlaku.

Seluruh aktivitas olahraga dan rekreasi di dalam maupun luar ruangan dilarang selama MCO berlangsung. Sejumlah layanan jasa, seperti salon, spa, kafe internet, hingga pusat kebugaran juga tetap tutup.

Pemerintah Malaysia juga menutup seluruh tempat pariwisata termasuk museum, galeri, pusat budaya, taman rekreasi, hingga perpustakaan. Pusat perbelanjaan seperti mal dan pertokoan juga ditutup total.

Restoran, kafe, dan apotek hanya boleh beroperasi mulai pukul 8.00 hingga 20.00. Restoran dan kafe hanya boleh menerima layanan take away dan pesan antar.

[Gambas:Video CNN]

Acara yang mengundang kerumunan seperti pernikahan, reuni, hingga konser juga dilarang. Karena itu, pemerintah Malaysia juga menutup semua kegiatan sekolah tatap muka.

Selain itu, warga Malaysia juga dilarang untuk bepergian antar-negara bagian, di mana warga hanya boleh bepergian dalam radius 10 kilometer dari tempat tinggal.

Setiap warga juga dilarang keluar rumah setelah pukul 20.00. Setiap hari selama MCO, hanya dua orang per rumah tangga yang boleh pergi keluar untuk membeli kebutuhan seperti ke pasar, supermarket, apotek, dan rumah sakit.

Terkait protokol kesehatan, selain menjaga jarak, warga Malaysia juga diwajibkan selalu menggunakan masker di tempat publik.

Menurut seorang WNI di Malaysia, Nuriyah, Negeri Jiran menerapkan aturan ini dengan sangat ketat.

Menyoal Penerapan Ketat Lockdown Malaysia hingga PPKM Mikro

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK