ANALISIS

Aturan 'Gila' China dan Tanda Restorasi Komunisme Era 4.0

rds, CNN Indonesia | Rabu, 15/09/2021 18:45 WIB
Xi Jinping disebut berupaya 'mendisiplinkan' generasi muda yang kini terpapar banyak pengaruh dan informasi dari luar meski sudah ada sejumlah pembatasan. Presiden Xi Jinping saat berpidato di Kongres Partai Komunis China terakhir. (Foto: AFP PHOTO/POOL /Lintao Zhang)

Restorasi nilai komunisme dan prioritas pemerintah China menyetarakan kesenjangan sosial ini pun berlangsung menjelang masa-masa akhir periode kedua jabatan Xi Jinping sebagai presiden.

Menurut seorang profesor emeritus ilmu politik dan sosial Universitas California, Dorothy Solinger, propaganda itu disebarkan Xi Jinping sebagai manuvernya mengamankan periode ketiga sebagai Presiden China.

"Xi berharap bisa menenangkan masyarakat karena ekonomi yang melambat dan bermaksud terlihat prihatin dengan kebutuhan masyarakat," kata Solinger.


"Tetapi masih banyak orang miskin yang terlupakan di China dan akan terus terpinggirkan seperti itu," paparnya menambahkan.

Chinese President Xi Jinping (R) and US President Donald Trump attend their bilateral meeting on the sidelines of the G20 Summit in Osaka on June 29, 2019. (Photo by Brendan Smialowski / AFP)Foto: Brendan Smialowski / AFP
Presiden Xi Jinping saat bertemu dengan petinggi negara di forum internasional

Petinggi Partai Komunis China (CPC) akan berkumpul di Beijing pada November mendatang dalam salah satu pertemuan terpenting organisasi tersebut menjelang Kongres CPC ke-20 tahun 2022 mendatang.

Dikutip The Straits Times, CPC mungkin dapat mengesahkan resolusi terbaru yang dapat memperkuat cengkraman kepemimpinan Xi Jinping atas partai itu dan mengkonsolidasikan dukungan untuk mengamankan periode ketiga jabatannya sebagai presiden.

Walau cukup banyak kritik dan keluhan dari generasi muda, aturan-aturan baru nyeleneh Xi Jinping justru cukup mendapatkan sambutan dukungan dari masyarakat China, terutama kaum orang tua.

Namun, seorang profesor ilmu politik sekaligus pakar politik China di Baptist University Hong Kong, Jean-Pierre Cabestan, mewanti-wanti bahwa kebijakan baru Xi Jinping yang semakin menyentuh ranah privasi warga China ini "akan membuat banyak musuh" di kalangan generasi muda.

"Pada masa Mao Zedong mungkin lebih mudah mengatur masyarakat karena dia memobilisasi pasukan Red Guards dan orang-orang loyalisnya. Saat itu, China juga masih terisolasi dari dunia luar. Tapi sekarang berbeda," kata Cabestan.

"Jadi mereka (pemerintahan Xi Jinping) harus berhati-hati dan selektif dalam mencampuri urusan privasi warga, dan saya pikir mereka akan menghadapi perlawanan warga lebih masif lagi (dibandingkan pada masa lalu)," paparnya menambahkan.

(bac)

[Gambas:Video CNN]
HALAMAN :
1 2 3
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK