Mengenal AUKUS, Kesepakatan Kapal Selam Nuklir Bikin Gaduh
CNN Indonesia
Selasa, 21 Sep 2021 17:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. (AFP/General Dynamics Electric Boat)
Jakarta, CNN Indonesia --
Negara-negara kawasan gempar ketika Amerika Serikat, Australia, dan Inggris menyepakati kerja sama pertahanan AUKUS yang memungkinkan Negeri Kanguru membangun kapal selam bertenaga nuklir.
Disepakati di tengah peningkatan ketegangan kawasan pada pekan lalu, pakta ini disebut-sebut diteken untuk membendung pengaruh China di Indo-Pasifik. China pun naik pitam.
Tak hanya itu, Prancis juga meradang karena kesepakatan AUKUS ini. Pasalnya, sebelum AUKUS diteken, Australia menangguhkan kerja sama kapal selam dengan Prancis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada akhirnya, AUKUS ini juga memicu ketegangan antara AS dengan Uni Eropa, yang merasa dikhianati dengan perjanjian tersebut.
Di samping masalah geopolitik, AUKUS juga menjadi sorotan karena dianggap dapat meningkatkan persaingan senjata nuklir di kawasan.
Sebagaimana dilansir The Independent, di bawah kesepakatan ini, Australia dapat membangun kapal selam bertenaga nuklir dengan bantuan teknologi dari Inggris dan AS.
Meski demikian, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, tak menjelaskan lebih lanjut mereka akan membeli kapal selam buatan Inggris dan AS atau tidak.
Sebagian pihak menganggap AUKUS ini berpotensi melanggar Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NNT). Perjanjian itu mengatur bahwa hanya negara-negara bersenjata nuklir yang dapat melakukan pengayaan uranium untuk nuklir.
Berdasarkan kesepakatan internasional, hanya negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa lah yang dapat memiliki senjata nuklir, yaitu China, AS, Inggris, Prancis, dan Rusia.
Namun, sebagian pihak lain menganggap AUKUS tak melanggar NNT karena berdasarkan perjanjian, AS akan memasok uranium yang sudah melalui proses pengayaan ke Australia. Australia menegaskan bahwa mereka tak akan melakukan pengayaan uranium sendiri.
Selain kapal selam, AUKUS juga mencakup kerja sama siber, kecerdasan buatan (AI), dan kuantum. Namun, semua teknologi itu lebih ditekankan untuk kepentingan militer, bukan intelijen.
Kekuatan militer memang sedang menjadi momok penting di kawasan, terutama karena China terus menunjukkan taringnya di Laut China Selatan.
Kesepakatan AUKUS ini pun memicu amarah China dan negara-negara Eropa. China geram karena AUKUS seolah memojokkan Negeri Tirai Bambu. Sementara itu, Eropa merasa disingkirkan dalam upaya membendung pengaruh China.
Amarah China dan Uni Eropa, baca di halaman berikutnya...
China
Tak lama setelah AUKUS disepakati, China langsung menuding aliansi baru AS ini "terperangkap mentalitas perang dingin."
"[Mereka] merusak perdamaian dan stabilitas kawasan, meningkatkan persaingan senjata, dan merusak upaya internasional untuk non-proliferasi senjata nuklir," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, seperti dikutip Reuters.
Ia kemudian berkata, "China meyakini bahwa mekanisme kawasan harus sesuai dengan tren untuk perdamaian dan pembangunan dan membantu membangkitkan kepercayaan dan kerja sama. Tak boleh ada yang menargetkan pihak ketiga atau melecehkan kepentingannya."
Selain China, Prancis juga murka karena merasa dikhianati Australia yang menangguhkan perjanjian kapal selam kedua negara.
Dalam tulisannya di The Washington Post, seorang pakar politik Amerika dari Princeton University, Sophie Meunier, mengatakan bahwa kesepakatan AUKUS ini mencabik kepercayaan Prancis.
"Banyak pihak di Prancis melihat kesepakatan kapal selam AUKUS sebagai konfirmasi bahwa AS memang tak lagi dapat dipercaya, bahkan setelah era Trump," tulis Meunier.
Prancis sebenarnya sempat optimistis ketika Biden dilantik sebagai presiden AS. Saat itu, survei lembaga Pew mengindikasikan kenaikan penerimaan publik Prancis terhadap AS hingga 34 poin.
Para diplomat Prancis bahkan sudah sempat ingin menjalin kerja sama erat dengan AS dalam pekara perubahan iklim hingga terorisme, juga ancaman China.
"Namun ternyata, mereka malah melihat amerika mengambil keputusan sepihak tanpa konsultasi. Keputusan unilateral ini mungkin dapat membangkitkan kembali sentimen anti-Amerika di Prancis dan sekitarnya," tulis Meunier.
Uni Eropa
Lebih jauh, Luke McGee dalam analisisnya di CNN menyatakan bahwa kesepakatan AS ini membuat Eropa kebingungan dengan pendekatan mereka ke China.
Sebelum kesepakatan AUKUS tercapai, Uni Eropa sebenarnya ingin melawan China dengan strategi berbeda, yaitu lebih persuasif.
"Jika ingin melihat sisi baiknya, [tindakan AS] ini mungkin hanya dianggap kasar, tapi yang buruk, tindakan ini mengonfirmasi bahwa mereka tak dianggap serius sebagai pemain geopolitik, meski ambisi global mereka sangat besar," tulis McGee.
Jakarta, CNN Indonesia --
Negara-negara kawasan gempar ketika Amerika Serikat, Australia, dan Inggris menyepakati kerja sama pertahanan AUKUS yang memungkinkan Negeri Kanguru membangun kapal selam bertenaga nuklir.
Disepakati di tengah peningkatan ketegangan kawasan pada pekan lalu, pakta ini disebut-sebut diteken untuk membendung pengaruh China di Indo-Pasifik. China pun naik pitam.
Tak hanya itu, Prancis juga meradang karena kesepakatan AUKUS ini. Pasalnya, sebelum AUKUS diteken, Australia menangguhkan kerja sama kapal selam dengan Prancis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada akhirnya, AUKUS ini juga memicu ketegangan antara AS dengan Uni Eropa, yang merasa dikhianati dengan perjanjian tersebut.
Di samping masalah geopolitik, AUKUS juga menjadi sorotan karena dianggap dapat meningkatkan persaingan senjata nuklir di kawasan.
Sebagaimana dilansir The Independent, di bawah kesepakatan ini, Australia dapat membangun kapal selam bertenaga nuklir dengan bantuan teknologi dari Inggris dan AS.
Meski demikian, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, tak menjelaskan lebih lanjut mereka akan membeli kapal selam buatan Inggris dan AS atau tidak.
Sebagian pihak menganggap AUKUS ini berpotensi melanggar Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NNT). Perjanjian itu mengatur bahwa hanya negara-negara bersenjata nuklir yang dapat melakukan pengayaan uranium untuk nuklir.
Berdasarkan kesepakatan internasional, hanya negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa lah yang dapat memiliki senjata nuklir, yaitu China, AS, Inggris, Prancis, dan Rusia.
Namun, sebagian pihak lain menganggap AUKUS tak melanggar NNT karena berdasarkan perjanjian, AS akan memasok uranium yang sudah melalui proses pengayaan ke Australia. Australia menegaskan bahwa mereka tak akan melakukan pengayaan uranium sendiri.
Selain kapal selam, AUKUS juga mencakup kerja sama siber, kecerdasan buatan (AI), dan kuantum. Namun, semua teknologi itu lebih ditekankan untuk kepentingan militer, bukan intelijen.
Kekuatan militer memang sedang menjadi momok penting di kawasan, terutama karena China terus menunjukkan taringnya di Laut China Selatan.
Kesepakatan AUKUS ini pun memicu amarah China dan negara-negara Eropa. China geram karena AUKUS seolah memojokkan Negeri Tirai Bambu. Sementara itu, Eropa merasa disingkirkan dalam upaya membendung pengaruh China.
Amarah China dan Uni Eropa, baca di halaman berikutnya...
Amarah China dan Sakit Hati Prancis Gara-gara AUKUS
Presiden Prancis Emmanuel Macron kecewa dengan Australia yang batalkan kontrak pembuatan kapal selam nuklir dengan negaranya. (AP/Kenzo Tribouillard)
China
Tak lama setelah AUKUS disepakati, China langsung menuding aliansi baru AS ini "terperangkap mentalitas perang dingin."
"[Mereka] merusak perdamaian dan stabilitas kawasan, meningkatkan persaingan senjata, dan merusak upaya internasional untuk non-proliferasi senjata nuklir," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, seperti dikutip Reuters.
Ia kemudian berkata, "China meyakini bahwa mekanisme kawasan harus sesuai dengan tren untuk perdamaian dan pembangunan dan membantu membangkitkan kepercayaan dan kerja sama. Tak boleh ada yang menargetkan pihak ketiga atau melecehkan kepentingannya."
Selain China, Prancis juga murka karena merasa dikhianati Australia yang menangguhkan perjanjian kapal selam kedua negara.
Dalam tulisannya di The Washington Post, seorang pakar politik Amerika dari Princeton University, Sophie Meunier, mengatakan bahwa kesepakatan AUKUS ini mencabik kepercayaan Prancis.
"Banyak pihak di Prancis melihat kesepakatan kapal selam AUKUS sebagai konfirmasi bahwa AS memang tak lagi dapat dipercaya, bahkan setelah era Trump," tulis Meunier.
Prancis sebenarnya sempat optimistis ketika Biden dilantik sebagai presiden AS. Saat itu, survei lembaga Pew mengindikasikan kenaikan penerimaan publik Prancis terhadap AS hingga 34 poin.
Para diplomat Prancis bahkan sudah sempat ingin menjalin kerja sama erat dengan AS dalam pekara perubahan iklim hingga terorisme, juga ancaman China.
"Namun ternyata, mereka malah melihat amerika mengambil keputusan sepihak tanpa konsultasi. Keputusan unilateral ini mungkin dapat membangkitkan kembali sentimen anti-Amerika di Prancis dan sekitarnya," tulis Meunier.
Uni Eropa
Lebih jauh, Luke McGee dalam analisisnya di CNN menyatakan bahwa kesepakatan AS ini membuat Eropa kebingungan dengan pendekatan mereka ke China.
Sebelum kesepakatan AUKUS tercapai, Uni Eropa sebenarnya ingin melawan China dengan strategi berbeda, yaitu lebih persuasif.
"Jika ingin melihat sisi baiknya, [tindakan AS] ini mungkin hanya dianggap kasar, tapi yang buruk, tindakan ini mengonfirmasi bahwa mereka tak dianggap serius sebagai pemain geopolitik, meski ambisi global mereka sangat besar," tulis McGee.