Perubahan Iklim dan Upaya Dunia Cari Solusi Lewat COP26
CNN Indonesia
Jumat, 29 Okt 2021 09:49 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Perdana Menteri Skotlandia Nicola Sturgeon memberikan pidato jelang gelaran COP26 di Glasgow. (AFP/JEFF J MITCHELL)
Jakarta, CNN Indonesia --
Termometer bumi semakin lama semakin naik. Imbas masalah panasnya bumi mulai dirasakan berbagai masyarakat, dari kutub hingga sahara.
Ancaman banjir, hujan lebat, kekeringan, punahnya keragaman hayati, dan krisis kemanusiaan perlahan menguak dari 'kotak pandora' yang selama ini tertutup isu kepentingan.
Dunia kini terancam masalah perubahan iklim. Kala manusia dahulu harus melewati berbagai ancaman perang, kelaparan, atau kemiskinan, kini mereka harus menghadapi masalah lingkungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengatasi masalah perubahan iklim, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumpulkan berbagai negara dunia untuk bertemu dalam sebuah konferensi yang dikenal dengan nama Conference of the Parties (COP). Selama tiga dekade terakhir, sudah 25 kali konferensi yang dilakukan untuk membahas isu ini.
Tahun ini, COP yang ke 26 akan diadakan pada 31 Oktober sampai 12 November 2021 di Glasgow, Inggris, dikutip dari situs resmi Badan PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC).
Sebelumnya, COP26 rencananya akan diselenggarakan pada 2020 lalu. Namun, pandemi Covid-19 membuat acara ini harus diundur hingga 2021.
Penyelenggaraan COP26 sendiri diketuai oleh Inggris.
Lantas, apa yang membedakan COP26 dengan COP yang diselenggarakan sebelumnya?
Pada 2015, perwakilan seluruh negara bertemu di Paris dalam acara COP21. Dalam acara itu, semua negara yang hadir untuk pertama kalinya sepakat berusaha mengurangi kenaikan suhu Bumi agar tidak mencapai dua derajat celsius.
Kesepakatan ini memunculkan perjanjian yang dikenal dengan sebutan Paris Agreement. Di bawah perjanjian ini, berbagai negara menyebutkan target pengurangan emisi karbon mereka. Target ini dinamai Nationally Determined Contributions (NDC).
Hampir semua negara berjanji akan melaporkan progres mereka dalam pemenuhan target pengurangan emisi ini tiap lima tahun sekali.
Agenda utama COP26, baca di halaman selanjutnya...
COP26 yang akan diadakan di Glasgow nanti akan menjadi ajang bagi negara untuk mengungkapkan progres mereka di mata internasional, sekaligus memperbarui rencana pengurangan emisi sebelumnya.
Indonesia juga turut menyampaikan target pengurangan emisi karbonnya dalam Paris Agreement. Mengutip dokumen NDC Indonesia, pemerintah RI berjanji untuk mengurangi emisi karbonnya sebanyak 29 persen (tanpa syarat), atau 41 persen (dengan syarat).
Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan jumlah yang dijanjikan RI sebelumnya, yakni sebanyak 26 persen pada 2010.
Mengutip laman resmi Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), komitmen untuk menjaga kenaikan suhu bumi agar tidak lebih dari 1,5 derajat celsius dapat mengurangi emisi CO2 di dunia sebanyak 45 persen pada 2030, dibandingkan pada 2010. Dunia juga dapat mencapai target nol emisi pada 2050.
Suhu Bumi menjadi penting untuk dikendalikan sebab ia bersinggungan dengan iklim dan cuaca.
Mengutip NASA, jika suhu Bumi naik sebanyak dua derajat celsius, berbagai daerah akan lebih sering mengalami hujan lebat. Daerah Amerika Utara disebut akan mendapati risiko banjir yang lebih tinggi akibat fenomena ini.
Tak hanya itu, wilayah Asia Tenggara, Eropa Utara, Asia Utara, dan Kanada berpotensi mengalami peningkatan hujan lebat.
Sementara itu, kenaikan suhu Bumi dalam angka 1,5 hingga 2 derajat celsius dapat meningkatkan deforestasi dan kebakaran hutan. Naiknya suhu ini juga dapat membuat es di Antartika mencair dan meningkatkan permukaan laut Bumi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Termometer bumi semakin lama semakin naik. Imbas masalah panasnya bumi mulai dirasakan berbagai masyarakat, dari kutub hingga sahara.
Ancaman banjir, hujan lebat, kekeringan, punahnya keragaman hayati, dan krisis kemanusiaan perlahan menguak dari 'kotak pandora' yang selama ini tertutup isu kepentingan.
Dunia kini terancam masalah perubahan iklim. Kala manusia dahulu harus melewati berbagai ancaman perang, kelaparan, atau kemiskinan, kini mereka harus menghadapi masalah lingkungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengatasi masalah perubahan iklim, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumpulkan berbagai negara dunia untuk bertemu dalam sebuah konferensi yang dikenal dengan nama Conference of the Parties (COP). Selama tiga dekade terakhir, sudah 25 kali konferensi yang dilakukan untuk membahas isu ini.
Tahun ini, COP yang ke 26 akan diadakan pada 31 Oktober sampai 12 November 2021 di Glasgow, Inggris, dikutip dari situs resmi Badan PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC).
Sebelumnya, COP26 rencananya akan diselenggarakan pada 2020 lalu. Namun, pandemi Covid-19 membuat acara ini harus diundur hingga 2021.
Penyelenggaraan COP26 sendiri diketuai oleh Inggris.
Lantas, apa yang membedakan COP26 dengan COP yang diselenggarakan sebelumnya?
Pada 2015, perwakilan seluruh negara bertemu di Paris dalam acara COP21. Dalam acara itu, semua negara yang hadir untuk pertama kalinya sepakat berusaha mengurangi kenaikan suhu Bumi agar tidak mencapai dua derajat celsius.
Kesepakatan ini memunculkan perjanjian yang dikenal dengan sebutan Paris Agreement. Di bawah perjanjian ini, berbagai negara menyebutkan target pengurangan emisi karbon mereka. Target ini dinamai Nationally Determined Contributions (NDC).
Hampir semua negara berjanji akan melaporkan progres mereka dalam pemenuhan target pengurangan emisi ini tiap lima tahun sekali.
Agenda utama COP26, baca di halaman selanjutnya...
Agenda Utama COP26
Foto ilustrasi banjir bandang di Sisilia, Italia. (AFP/STRINGER)
COP26 yang akan diadakan di Glasgow nanti akan menjadi ajang bagi negara untuk mengungkapkan progres mereka di mata internasional, sekaligus memperbarui rencana pengurangan emisi sebelumnya.
Indonesia juga turut menyampaikan target pengurangan emisi karbonnya dalam Paris Agreement. Mengutip dokumen NDC Indonesia, pemerintah RI berjanji untuk mengurangi emisi karbonnya sebanyak 29 persen (tanpa syarat), atau 41 persen (dengan syarat).
Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan jumlah yang dijanjikan RI sebelumnya, yakni sebanyak 26 persen pada 2010.
Mengutip laman resmi Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), komitmen untuk menjaga kenaikan suhu bumi agar tidak lebih dari 1,5 derajat celsius dapat mengurangi emisi CO2 di dunia sebanyak 45 persen pada 2030, dibandingkan pada 2010. Dunia juga dapat mencapai target nol emisi pada 2050.
Suhu Bumi menjadi penting untuk dikendalikan sebab ia bersinggungan dengan iklim dan cuaca.
Mengutip NASA, jika suhu Bumi naik sebanyak dua derajat celsius, berbagai daerah akan lebih sering mengalami hujan lebat. Daerah Amerika Utara disebut akan mendapati risiko banjir yang lebih tinggi akibat fenomena ini.
Tak hanya itu, wilayah Asia Tenggara, Eropa Utara, Asia Utara, dan Kanada berpotensi mengalami peningkatan hujan lebat.
Sementara itu, kenaikan suhu Bumi dalam angka 1,5 hingga 2 derajat celsius dapat meningkatkan deforestasi dan kebakaran hutan. Naiknya suhu ini juga dapat membuat es di Antartika mencair dan meningkatkan permukaan laut Bumi.