Curhat Warga Taiwan: Invasi China Tinggal Tunggu Waktu
CNN Indonesia
Kamis, 07 Jul 2022 13:37 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Wu Yu-wei, salah satu warga yang masuk program militer Taiwan sebagai pasukan elit angkatan bersenjata. (Foto: REUTERS/ANN WANG)
Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah Rusia berani menginvasi Ukrainapada Februari lalu, muncul kekhawatiran giliran Chinayang nekat menggempur Taiwan.
Selama ini, China selalu bertindak keras menghadapi ambisi Taiwan yang ingin merdeka. Beijing berulang kali menegaskan akan menggunakan segala cara, termasuk operasi militer, guna menyatukan kembali Taiwan dengan daratan China.
China juga semakin getol melakukan sederet provokasi militer mulai dari menggelar latihan tempur di Selat Taiwan hingga mengerahkan puluhan jet tempurnya menerobos masuk wilayah pertahanan udara (ADIZ) Taiwan.
Pemerintahan Presiden Xi Jinping ingin menggunakan provokasi militer sebagai ultimatum kepada angkatan udara Taiwan bahwa China bukan lawan yang sepadan. Taipei kerap kelimpungan menghadapi berbagai provokasi dari jet-jet tempur China yang kerap menerobos wilayah udara Taiwan.
Seorang warga Taiwan, Chen Jong-Long, mengatakan sebagian besar warga lokal di wilayah itu sudah terbiasa dengan ancaman militer China. Ia menganggap sebagian besar warga Taiwan percaya cepat atau lambat China akan melancarkan pergerakan militer ke wilayah mereka.
"Bagi warga Taiwan, kekhawatiran terbesar terkait ancaman China itu bukan lagi soal apakah militer Cina akan menginvasi tanah kami atau tidak, ini soal kapan (itu akan terjadi)," ucap Chen kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (5/7).
"Sejak saya kecil, saya sudah tahu bahwa pemerintah China telah menggelontorkan banyak waktu dan sumber daya untuk mempersiapkan potensi perang (dengan Taiwan). Bahkan, sekarang, mereka masih gigih mencari-cari waktu dan tempat yang tepat untuk melancarkan pergerakan militer tersebut," paparnya menambahkan.
Menurut Chen, invasi Rusia ke Ukraina pun membuat China menyesuaikan kembali strategi militernya. Ia menganggap invasi Rusia membuat Presiden China Xi Jinping sadar bahwa sebuah perang akan dibayar dengan harga sangat mahal.
Selain itu, Taiwan juga terus mempererat relasi dengan Amerika Serikat, saingan utama China. Selama beberapa tahun terakhir, AS-Taiwan di tangan Presiden Tsai Ing-wen terus meningkatkan kerja sama terutama dalam hal jual beli senjata dan industri semi-konduktor.
Mengkuti AS, sejumlah negara sekutu Negeri Paman Sam seperti Jepang dan Australia juga telah secara terbuka menjanjikan dukungan bagi Taiwan untuk menghadapi ancaman China.
"Itu membuat pemimpin China tersadar akan harga yang harus dibayar dari sebuah perang dan itu melebihi yang mereka bayangkan selama ini," ujar Chen.
"Ini membuat Taiwan memiliki waktu signifikan untuk berlindung dan mempertahankan wilayah kami untuk beberapa tahun ke depan," papar mahasiswa jurusan administrasi bisnis di National Chung Kung University Tainan itu menambahkan.
Chen menilai para pemimpin China tak akan begitu saja menyerah pada niat mereka untuk merebut kembali Taiwan yang dianggap sebagai wilayah pembangkang karena ingin memisahkan diri dan merdeka.
"Jadi pertanyaannya mana kah yang akan terjadi duluan? Militer China melancarkan pergerakan militer besar-besaran ke Taiwan atau berakhirnya era Partai Komunis China?" ujar Chen.
Warga Taiwan lebih takut upah kerja minim ketimbang diinvasi China, baca di halaman berikutnya >>>
Lebih Takut Invasi Budaya
Chen menuturkan beberapa tahun lalu jauh sebelum relasi China-Taiwan semakin pelik, banyak warga yang percaya bahwa hubungan Beijing-Taipei harus dijaga seperti biasa. Saat itu, warga Taiwan cenderung bersikap netral terkait isu politik kedua belah pihak.
Namun, Chen berkata pandangan itu berubah drastis setelah berbagai masalah yang membuat relasi China-Taiwan semakin pelik dan invasi Rusia berlangsung.
"Sejak berbagai masalah diplomatik dan konflik lainnya, semakin banyak warga Taiwan memutuskan mengambil posisi apakah mendukung AS atau memilih hidup dengan pengaruh China," ujar Chen.
Chen memaparkan banyak orang asing yang tak paham bahwa tidak semua warga Taiwan menentang China. Menurut pengetahuannya, masih ada 20 persen populasi Taiwan yang berpikir Taipei seharusnya mengikuti apa kata China dan memperkuat kerja sama ekonomi antara keduanya.
Menurut mereka, mendekat dengan China akan memperluas peluang ekonomi bagi Taiwan dan akhirnya dapat membantu Taipei berkembang menjadi negara yang sangat maju di masa depan.
Chen mengatakan warga Taiwan juga tak begitu gusar soal ancaman invasi China. Menurutnya, orang-orang lebih khawatir soal isu domestik seperti upah minimum kerja dan angka kelahiran yang rendah.
"Dibandingkan dengan ancaman militer dari China, kami lebih takut dengan serangan dunia maya dan invasi budaya China," paparnya.
Chen menjelaskan semakin banyak remaja dan pemuda Taiwan menggunakan karakter huruf mandarin yang disederhanakan dalam penulisan seperti yang dipakai warga China. Selama ini, orang Taiwan menggunakan karakter penulisan huruf mandarin versi tradisional.
Chen juga bercerita makin banyak warga Taiwan yang terbiasa berbicara dengan bahasa gaul dan budaya pop China.
Media sosial, kata Chen, juga tak luput menjadi ancaman warga Taiwan terkait propaganda China. Sebab, ia mengatakan semakin banyak berita bohong dan propaganda pro-China yang berseliweran di media sosial.
"Ini menjadi fenomena sosial dan masalah besar di Taiwan. Sosial media menjadi senjata diam-diam China yang harus kami perhatikan," ujar Chen.
Setelah Rusia berani menginvasi Ukrainapada Februari lalu, muncul kekhawatiran giliran Chinayang nekat menggempur Taiwan.
Selama ini, China selalu bertindak keras menghadapi ambisi Taiwan yang ingin merdeka. Beijing berulang kali menegaskan akan menggunakan segala cara, termasuk operasi militer, guna menyatukan kembali Taiwan dengan daratan China.
China juga semakin getol melakukan sederet provokasi militer mulai dari menggelar latihan tempur di Selat Taiwan hingga mengerahkan puluhan jet tempurnya menerobos masuk wilayah pertahanan udara (ADIZ) Taiwan.
Pemerintahan Presiden Xi Jinping ingin menggunakan provokasi militer sebagai ultimatum kepada angkatan udara Taiwan bahwa China bukan lawan yang sepadan. Taipei kerap kelimpungan menghadapi berbagai provokasi dari jet-jet tempur China yang kerap menerobos wilayah udara Taiwan.
Seorang warga Taiwan, Chen Jong-Long, mengatakan sebagian besar warga lokal di wilayah itu sudah terbiasa dengan ancaman militer China. Ia menganggap sebagian besar warga Taiwan percaya cepat atau lambat China akan melancarkan pergerakan militer ke wilayah mereka.
"Bagi warga Taiwan, kekhawatiran terbesar terkait ancaman China itu bukan lagi soal apakah militer Cina akan menginvasi tanah kami atau tidak, ini soal kapan (itu akan terjadi)," ucap Chen kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (5/7).
"Sejak saya kecil, saya sudah tahu bahwa pemerintah China telah menggelontorkan banyak waktu dan sumber daya untuk mempersiapkan potensi perang (dengan Taiwan). Bahkan, sekarang, mereka masih gigih mencari-cari waktu dan tempat yang tepat untuk melancarkan pergerakan militer tersebut," paparnya menambahkan.
Menurut Chen, invasi Rusia ke Ukraina pun membuat China menyesuaikan kembali strategi militernya. Ia menganggap invasi Rusia membuat Presiden China Xi Jinping sadar bahwa sebuah perang akan dibayar dengan harga sangat mahal.
Selain itu, Taiwan juga terus mempererat relasi dengan Amerika Serikat, saingan utama China. Selama beberapa tahun terakhir, AS-Taiwan di tangan Presiden Tsai Ing-wen terus meningkatkan kerja sama terutama dalam hal jual beli senjata dan industri semi-konduktor.
Mengkuti AS, sejumlah negara sekutu Negeri Paman Sam seperti Jepang dan Australia juga telah secara terbuka menjanjikan dukungan bagi Taiwan untuk menghadapi ancaman China.
"Itu membuat pemimpin China tersadar akan harga yang harus dibayar dari sebuah perang dan itu melebihi yang mereka bayangkan selama ini," ujar Chen.
"Ini membuat Taiwan memiliki waktu signifikan untuk berlindung dan mempertahankan wilayah kami untuk beberapa tahun ke depan," papar mahasiswa jurusan administrasi bisnis di National Chung Kung University Tainan itu menambahkan.
Chen menilai para pemimpin China tak akan begitu saja menyerah pada niat mereka untuk merebut kembali Taiwan yang dianggap sebagai wilayah pembangkang karena ingin memisahkan diri dan merdeka.
"Jadi pertanyaannya mana kah yang akan terjadi duluan? Militer China melancarkan pergerakan militer besar-besaran ke Taiwan atau berakhirnya era Partai Komunis China?" ujar Chen.
Warga Taiwan lebih takut upah kerja minim ketimbang diinvasi China, baca di halaman berikutnya >>>
Warga Taiwan Lebih Takut Invasi Budaya
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen saat meresmikan peluncuran uji rudal buatan sendiri. (Foto: AFP/CHRIS STOWERS)
Lebih Takut Invasi Budaya
Chen menuturkan beberapa tahun lalu jauh sebelum relasi China-Taiwan semakin pelik, banyak warga yang percaya bahwa hubungan Beijing-Taipei harus dijaga seperti biasa. Saat itu, warga Taiwan cenderung bersikap netral terkait isu politik kedua belah pihak.
Namun, Chen berkata pandangan itu berubah drastis setelah berbagai masalah yang membuat relasi China-Taiwan semakin pelik dan invasi Rusia berlangsung.
"Sejak berbagai masalah diplomatik dan konflik lainnya, semakin banyak warga Taiwan memutuskan mengambil posisi apakah mendukung AS atau memilih hidup dengan pengaruh China," ujar Chen.
Chen memaparkan banyak orang asing yang tak paham bahwa tidak semua warga Taiwan menentang China. Menurut pengetahuannya, masih ada 20 persen populasi Taiwan yang berpikir Taipei seharusnya mengikuti apa kata China dan memperkuat kerja sama ekonomi antara keduanya.
Menurut mereka, mendekat dengan China akan memperluas peluang ekonomi bagi Taiwan dan akhirnya dapat membantu Taipei berkembang menjadi negara yang sangat maju di masa depan.
Chen mengatakan warga Taiwan juga tak begitu gusar soal ancaman invasi China. Menurutnya, orang-orang lebih khawatir soal isu domestik seperti upah minimum kerja dan angka kelahiran yang rendah.
"Dibandingkan dengan ancaman militer dari China, kami lebih takut dengan serangan dunia maya dan invasi budaya China," paparnya.
Chen menjelaskan semakin banyak remaja dan pemuda Taiwan menggunakan karakter huruf mandarin yang disederhanakan dalam penulisan seperti yang dipakai warga China. Selama ini, orang Taiwan menggunakan karakter penulisan huruf mandarin versi tradisional.
Chen juga bercerita makin banyak warga Taiwan yang terbiasa berbicara dengan bahasa gaul dan budaya pop China.
Media sosial, kata Chen, juga tak luput menjadi ancaman warga Taiwan terkait propaganda China. Sebab, ia mengatakan semakin banyak berita bohong dan propaganda pro-China yang berseliweran di media sosial.
"Ini menjadi fenomena sosial dan masalah besar di Taiwan. Sosial media menjadi senjata diam-diam China yang harus kami perhatikan," ujar Chen.