Jalan Bagi Pemadat, Hotel Prodeo atau Rehabilitasi?

Karina Armandani, CNN Indonesia | Jumat, 29/08/2014 10:12 WIB
Tujuh lembaga telah mendesain panti rehabilitasi pengguna narkoba di 16 kota dan kabupaten di Indonesia. Dengan begitu, pecandu tak perlu ditahan. Tapi akankah panti ini efektif menekan laju penggunaan narkoba?
Jakarta, CNN Indonesia -- Lelaki itu kurus, dan—menurut pengakuannya sendiri—jarang mandi. Tapi untungnya kulitnya putih bersih. Sedikit banyak itu bisa menutupi rutinitasnya yang bisa bikin mata terbelalak: dia aktif menghisap ganja.

Rino, begitu pria 31 tahun itu ingin disebut, menghisap ganja saban hari. Anehnya, itu tak mengganggu aktivitasnya sebagai juru foto freelance. Satu-satunya kekhawatiran yang selalu mengintip di hatinya: ketahuan polisi.

Rino yakin betul, begitu ketahuan dan tertangkap polisi, penjara adalah tempatnya mendekam. Dia sangsi, polisi akan memasukkannya ke panti rehabilitasi narkoba, seperti yang dialami sejumlah pesohor.
 
“Nanti pada prakteknya, kayaknya akan tetap saja seperti yang terjadi selama ini. Orang yang kedapatan pakai narkoba pasti ditahan dulu di penjara,” ujarnya.
 
Padahal, tujuh lembaga, yaitu Badan Narkotika Nasional (BNN), Kepolisian RI, Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan telah merancang cara yang berbeda.


Ketujuh instansi itu menandatangani kerjasama mendirikan proyek percontohan panti rehabilitasi di 16 daerah, pada Rabu (27/8). Tujuannya, menciptakan cara lain memberantas narkoba, selain dengan menggulung bandar dan sindikatnya.

Rehabilitas pecandu dianggap lebih efektif, dibandingkan menjebloskan mereka ke dalam penjara. Total di Indonesia terdapat 2.500 kasus narkoba yang terungkap per tahun. BNN yakin, rehabilitasi dapat menekan laju penggunaan narkoba. Itu terbukti efektif di negara lain.  

Rino mengaku tahu peraturan itu. Tapi tetap saja dia belum merasa aman. Dia juga mempertanyakan, mengapa pembangunan rehabilitasi hanya di 16 kota. “Pemilihan tempat-tempat itu memangnya berdasarkan apa? Kenapa harus dibeda-bedakan?” ujarnya.

REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK