Munas Golkar

Munas Ajang Pertaruhan Arah Politik Golkar

Suriyanto, CNN Indonesia | Rabu, 26/11/2014 11:39 WIB
Desakan untuk mengembalikan tradisi politik Golkar sebagai pendukung kekuasaan terus meningkat. Pencalonan Ical pun ditentang. Ilustrasi Partai Golkar. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengembalian tradisi politik Golkar sebagai partai pendukung kekuasaan turut jadi pertaruhan dalam Munas IX di Bali 30 November 2014 mendatang.

Menurut pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, Selasa (25/11), perpecahan yang ada sekarang juga diakibatkan adanya tarik ulur kepentingan pengembalian Golkar sebagai partai koalisi pendukung pemerintahan.

"Selama ini Golkar tidak pernah lari dari garis politik yakni kekuasaan," kata Hendri, Selasa (25/11) kepada CNN Indonesia. Perebutan tampuk pimpinan partai beringin ini menurutnya juga tidak lepas untuk mendapatkan kekuasan dari pemerintahan saat ini. (Baca juga: Polisi Minta Golkar Selesaikan Masalah Secar Internal)


Jika Aburizal Bakrie atau Ical kalah, maka kemungkinan Golkar bakal beralih mendukung pemerintahan saat ini. "Golkar bisa lebih merapat untuk mendapatkan beberapa kursi di pemerintahan," kata Hendri.

Ia belum sepenuhnya yakin kabinet Jokowi saat ini sudah tetap. Bongkar pasang kabinet masih sangat mungkin dilakukan oleh Joko Widodo.

Belum lagi kursi lembaga pemerintahan lain seperti kepala badan atau komisaris komisaris BUMN.

Karena sejak awal garis politik Golkar berada di dalam kekuasaan maka saat ini banyak yang protes saat Golkar jadi oposisi.

Namun bukan berarti jika Ical menang kemungkinan Golkar masuk ke pemerintahan tertutup. Hendri menilai, Ical adalah sosok politisi lihai.

Perdamaian Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) di DPR RI menurutnya ada turut campur tangan Ical. "Jadi bukan sekadar diplomasi mpek-mpek dan ikan patin saja," kata Hendri.

Saat itu kata sepakat terjadi di rumah Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Rajasa. Pembicaraan dilakukan sambil makan menu khas Palembang.

Hendri melihat, ada peluang Ical akan mengembalikan Golkar pada tradisi lamanya yakni partai pemerintah. Jika Ical bisa menjamin hal ini, Hendri yakin Ical sebagai calon kuat Ketua Umum Golkar bakal semakin kuat lagi.
(Lihat juga Fokus:Umur Emas Partai Beringin)

Ical sendiri dinilai Hendri masih punya peluang kuat. Pasalnya, tidak ada sosok kuat yang jadi pesaing Ical saat ini. Butuh sosok yang punya latar belakang seperti pengusaha atau militer untuk bisa melawan Ical dalam bursa Ketua Umum Golkar.

Golkar adalah partai penguasa selama 32 tahun saat orde baru. Era refomasi, Golkar tidak pernah keluar dari kekuasaan dengan selalu jadi pendukung pemerintahan. Namun pasca pemilihan presiden 2014, Golkar memutuskan untuk beroposisi. Calon presiden yang didukung, Prabowo Subianto, kalah.

Golkar masuk dalam Koalisi Merah Putih (KMP) yang berseberangan dengan pemerintah. Sejak saat itu banyak kalangan menilai kepemimpinan Ical harus dikoreksi. Penolakan terhadap Ical terus berlanjut saat Ical mencalonkan diri lagi sebagai ketua umum Golkar pada Munas IX di Bali.
(Baca juga: Menkopolhukam Perkeruh Konflik Golkar)