Evakuasi AirAsia

Hari Itu, Pesawat Belok ke Arah Laut Lalu Ditelan Kabut

Gilang Fauzi, CNN Indonesia | Minggu, 04/01/2015 20:52 WIB
Hari Itu, Pesawat Belok ke Arah Laut Lalu Ditelan Kabut Pencarian korban AirAsia QZ8501. (Reuters/Beawiharta)
Pangkalan Bun, CNN Indonesia -- Pagi itu, Minggu (28/12), Efendi (56) tengah asyik membetulkan atap kandang ayam. Mendadak konsentrasinya teralihkan ketika melihat sebuah objek melintas di langit. Pemandangan itu agak ganjil. Pesawat terbang miring dari arah selatan, lalu dengan tiba-tiba belok ke arah timur.

Warga Dusun Kubu, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, itu sontak menghentikan pekerjaannya. “Waktu itu hujan dan cuaca buruk, perkiraan saya sekitar pukul 06.30 WIB. Pesawat itu terlihat miring dan hilang kendali, lalu berbelok ke arah laut,” kata Efendi di kampung nelayan Dusun Kubu, Minggu (4/1).

Di tempat terpisah, Tanjung Pandan, Sudarso (33) melihat kejadian serupa. Saat itu ia urung melaut lebih jauh karena turun hujan lebat. Sudarso baru saja mengangkat jaring di atas perahunya ketika melihat pesawat terbang rendah dari arah tenggara.


“Moncongnya putih, badan pesawat serba merah. Pesawat itu terlihat belok ke kiri ke arah laut, sebelum akhirnya ditelan kabut,” ujar Sudarso.

Sementara di sekitar pantai yang letaknya tak jauh dari Sungai Buluh Kecil, Rahmat mendadak merasakan getaran hebat dan debuman keras. Perahu miliknya ikut bergetar. Nelayan itu pun bingung.

“Saya bisa membedakan amukan ombak dan getaran yang tidak biasa. Ketika itu terdengar suara yang menyerupai ledakan. Ibarat ember berisi air yang dijatuhkan ke dalam sumur: bum!” ujar Rahmat.

Usai debuman keras, kabut tebal dari tengah laut tiba-tiba datang menghampiri Rahmat yang berada di bibir pantai. “Itu bukan asap. Saat itu cuaca memang sedang buruk. Saya pun memilih bermalam di Sungai Buluh,” kata dia.

Keesokan harinya, Senin (29/12), Rahmat baru pulang ke rumahnya di Dusun Kubu. Lewat televisi di rumahnya itulah dia mengetahui berita pesawat AirAsia QZ8501 telah kehilangan kontak.

Kabar pun beredar bahwa Rahmat mendengar suara debuman. Lurah Kumai, Said Syamsudin Noor, lantas mengabarkan kesaksian Rahmat kepada aparat militer yang diperbantukan untuk melakukan pencarian QZ8501.

Efendi dan Sudarso pun kemudian turut dimintai kesaksian. Rahmat lantas dibawa ke Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, untuk menunjukkan arah lokasi dari kesaksiannya, Selasa (30/12).

"Suara debuman itu berjarak sekitar dua jam dari perahu saya berada saat itu. Saya ingin membuktikan bahwa kesaksian saya bukan omong kosong. Terbukti, setelah saya tunjukkan lokasi dugaan, sebuah koper dan satu jenazah ditemukan," ujar Rahmat.

Menginjak hari kedelapan pencarian korban AirAsia QZ8501, total 34 jenazah telah ditemukan. Nelayan lokal seperti Rahmat, Efendi, dan Sudarso yang mengetahui baik perairan di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, ikut dikerahkan dalam pencarian. (agk/agk)