“Jangan salah pilih, kalau dua hal penting itu tidak diperhatikan nanti malah Wantimpresnya yang banyak bertanya ke yang muda-muda,” kata Syamsuddin saat dihubungi CNN Indonesia, Senin (19/1). “Siapa isinya Wantimpres itu,” lanjut dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syamsuddin mengingatkan bahwa posisi Wantimpres strategis dalam menentukan arah kebijakan pemerintah. Karena itu Wantimpres diamanatkan dalam konstitusi bahwa mesti ada kelembagaan tersebut yang diatur dalam undang-undang. “Kebutuhan untuk second opinion dalam memutuskan persoalan-persoalan yang strategis,” kata dia.
“Sekarang tergantung pada Jokowi sejauhmana nantinya bisa memanfaatkan Wantimpres dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang strategis,” ujar dia.
Sejumlah tokoh belakangan ini namanya muncul sebagai kandidat Wantimpres, di antaranya Ginandjar Kartasasmita, Sidarto Danusubroto, Jan Darmadi, Hasyim Muzadi, dan Suharso Monoarfa. Watimpres disebut-sebut bakal diisi oleh kalangan politikus senior dari Koalisi Indonesia Hebat yang merupakan pendukung pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.
Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sembilan nama yang mengisi posisi Wantimpres sesuai dengan pembidangannya yaitu Emil Salim (Ketua/anggota Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup), KH Ma’ruf Amin (anggota Bidang Hubungan Antaragama), Meutia Hatta (anggota Bidang Pendidikan dan Kebudayaan), Ginandjar Kartasasmita (anggota Bidang Pembangunan dan Otonomi Daerah), Widodo (anggota Bidang Pertahanan dan Keamanan), Hassan Wirajuda (anggota Bidang Hubungan Luar Negeri), Ryaas Rasyid (anggota Bidang Pemerintahan dan Reformasi Birokrasi), Siti Fadilah Supari (anggota Bidang Kesejahteraan Rakyat), dan Albert Hasibuan (anggota Bidang Hukum dan HAM). (obs)