KPK vs Polri

Aliran Transaksi Tak Wajar Anak Budi ke Rekening Kerabat

Rosmiyati Dewi Kandi, CNN Indonesia | Jumat, 30/01/2015 06:20 WIB
Aliran Transaksi Tak Wajar Anak Budi ke Rekening Kerabat Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Reformasi Polri membentuk formasi tulisan Polri Bersih saat berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 21 Januari 2015. Mereka meminta Joko Widodo mencabut pencalonan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri dan memilih calon Kapolri yang tidak memiliki catatan buruk serta memiliki integritas. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai melakukan pemeriksaan terhadap kerabat Komisaris Jenderal Budi Gunawan terkait dugaan gratifikasi. Mereka adalah kakak kandung Budi, Sintawati Soedarno Hendroto dan sepupu Budi, Susaningtyas NH Kertopati.

Berdasarkan dokumen yang diperoleh CNN Indonesia, Sintawati melakukan pemindahbukuan langsung sebesar Rp 7,5 miliar dari rekeningnya ke rekening putra kandung Budi yaitu Muhammad Herviano Widyatama. Transaksi yang cukup besar tersebut terjadi pada 17 Januari 2008.

Sementara itu, merujuk pada dokumen hasil wawancara yang dilakukan Bareskrim Polri kepada Sintawati menyebutkan Sintawati tertarik untuk menyertakan modal serta bekerja sama dengan keponakannya, Herviano, dalam bisnis perhotelan.


Bisnis yang dimaksud yaitu pembangunan hotel di kawasan Dago, Bandung, Jawa Barat seperti yang dikutip oleh Sintawati saat itu, "mengingat prospeknya menjanjikan karena lokasi hotel yang sangat strategis."

Di hadapan penyelidik Bareskrim Polri saat diwawancara 1 Juni 2010, Sintawati mengatakan dalam bisnis perhotelan itu dia bakal menyertakan modal sebanyak Rp 15,212 miliar.

Herviano yang diperiksa penyelidik Bareskrim Polri pada 10 Juni 2010 mengatakan dirinya berencana membangun bisnis pertambangan timah dan perhotelan. Namun, karena keterbatasan dana, dia meminta kepada orang tuanya untuk mendapat bantuan.

Orang tua Herviano, yang tak lain adalah Budi Gunawan, lantas berjanji untuk memperkenalkan Herviano kepada rekannya. Pada 6 Juli 2005, Herviano melakukan perjanjian kredit dengan Pacific Blue International Limited (PBIL) dan memperoleh pinjaman US$ 5,9 juta atau setara Rp 57 miliar.

Pinjaman tersebut diserahkan secara tunai dalam bentuk rupiah. Namun, Budi menyarankan kepada Herviano agar sebagian pinjaman disetor ke rekening Budi agar penggunaannya bisa diawasi.

Bisnis smelter timah Herviano bekerja sama dengan dua perusahaan di Pangkalpinang, Bangka Belitung. Herviano juga menjalankan bisnis surat berharga namun mengalami kerugian hingga Rp 2 miliar.

Usaha lain yang dijalankan Herviano yaitu penjualan barang antik milik keluarga. Dalam menjalankan bisnisnya, Herviano didampingi anggota Polri yang merupakan staf Budi Gunawan saat itu.

Pada saat pembukaan rekening 1 Agustus 2005, setoran awal Herviano juga dianggap "sangat tidak sesuai dengan profil yang bersangkutan yang tercatat sebagai mahasiswa". Total transaksi setoran dana tertanggal 1 Agustus 2005 senilai total Rp 25 miliar.

Dokumen yang diperoleh CNN Indonesia menyatakan, "sumber dana yang digunakan untuk penyetoran pembukaan rekening tidak jelas, namun diindikasikan setoran dana berasal dari ayahnya yaitu BG." (rdk/sip)