Lebih dari itu, perkiraan dari Lembaga Kerja Sama Internasional Jepang tersebut pada kenyataannya jauh lebih “menyeramkan”. Kemacetan tak hanya terjadi di ruas-ruas jalan raya ibu kota tapi sudah menyebar merata ke jalanan-jalanan kawasan pemukiman di pinggiran Jakarta.
Bahkan fenomena stagnasi lalu lintas sudah begitu kentara sejak 2005 lalu. Ibarat air satu ember yang dituang ke dalam satu cangkir, tentunya tak mampu menampung volume air yang jumlahnya sangat jauh lebih banyak. Luberan air pun tak terelakkan. Pun begitu dengan jumlah kendaraan di Jakarta yang sangat tak sebanding dengan lebar dan panjangnya jalanan yang ada.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Panjang jalannya segitu-gitu saja, sementara jumlah kendaraan setiap saat bertambah, dan luas wilayahnya juga tetap segitu,” ujar Yayat kepada CNN Indonesia, Kamis (5/2).
“Parahnya kemacetan ini hingga menyebabkan lalu lintas Jakarta lumpuh sudah diprediksikan oleh JICA sejak tahun 2000 dan sudah diantisipasi juga oleh pemerintah namun masih jauh dari berhasil,” tutur Yayat.
MRT Sebagai Revolusi Transportasi
Mega proyek Mass Rapid Transit yang sudah belasan tahun digagas akhirnya pada 2014 lalu baru bisa diwujudkan pengerjaannya. Proyek raksasa berbasis rel yang rencananya akan membentang kurang lebih 110,8 kilometer ini bakal menjadi solusi jitu mengurai kemacetan ibu kota.
“Ini memang proyek revolusi transportasi publik yang akan membawa perubahan besar di Jakarta,” kata Yayat.
Namun Yayat mengingatkan, MRT yang pembangunannya menelan dana hingga puluhan triliun rupiah itu harus diimbangi dengan penyediaan sarana dan prasana penunjang yang terintergrasi.
“Harus diintegrasikan dengan moda-moda lain, harus ada feeder yang bagus sebagai pengumpan untuk naik MRT,” ujar Yayat.
Tidak hanya itu, dia menambahkan, pedestriannya juga harus disiapkan dengan sangat baik. “Nggak kebayang kan ribuan orang pas turun dari MRT kalau pedestriannya tidak siap,” tutur Yayat.
(obs/obs)