Kepala BPOM Roy Sparringa mengatakan, petugasnya melakukan pemeriksaan terhadap sarana produksi Kalbe Farma setelah muncul dugaan ada dua obat yang tertukar.
"Kami sudah mendatangi sarana produksi Kalbe Farma, melihat penerapan CPOB. Kami melihat potensi terjadi mix up. Penerapan CPOB belum seperti yang diharapkan," kata Kepala BPOM Roy Sparringa di Jakarta, Rabu (18/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tim kami melihat reaksi warna dan sebagainya," tuturnya.
Sampel yang diteliti BPOM merupakan sisa hasil injeksi kepada pasien RS Siloam Lippo Village yang kemudian meregang nyawa. Kemasan Buvanest Spinal tersebut bervolume 4 mililiter. "Kami mengamankan sisanya yang satu mililiter," kata Roy.
"Kami sudah membekukan nomor izin edar produk anestesi Kalbe. Produksi di line enam juga sudah dihentikan," kata Roy.
Roy menjelaskan, tindakan tersebut diambil untuk memudahkan investigasi yang dilakukan BPOM. "Sarana distribusi Buvanest Spinal dari seluruh batch sudah kami segel," lanjutnya.
Deputi Satu BPOM, Tengku Bahdar Johan mengatakan, hasil penelitian tersebut sebenarnya serupa dengan pengujian yang dilakukan Kalbe Farma sebelumnya. "Labelnya Buvanest Spinal, tapi isinya, menurut pengujian Kalbe sendiri, Asam Tranexamat," ujarnya.
Kalbe Farma, pada 12 Februari lalu telah melakukan penarikan secara sukarela terhadap Buvanest Spinal 0,5 persen Heavy 4 mililiter dan Asam Tranexamat Generik 500 mg/Amp 5 ml bernomor batch 629668 dan 630025. (rdk)