Jumat Keramat Bersama Band Marjinal di Komisi Antirasuah

Gilang Fauzi, CNN Indonesia | Jumat, 20/02/2015 20:45 WIB
Grup band punk Marjinal beraksi di Gedung KPK, Jumat (20/2). (CNN Indonesia/ Gilang Fauzi)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Di negeri permai ini, berjuta rakyat bersimbah luka. Anak buruh tak sekolah, pemuda desa tak kerja. Mereka dirampas haknya."

Penggalan lirik dari lagu berjudul "Darah Juang" milik grup musik Punk Marjinal itu menggema di Gedung KPK, Jumat (20/2). Puluhan anak muda berpakaian serba hitam melantunkan lagu itu dengan iringan gitar akustik dalam tempo lambat. Mereka memadati pelataran Gedung KPK dan terhanyut dalam alunan musik. Semua tangan mengepal ke udara.

Lantas tabuhan dua alat musik perkusi menghentak. Tabuhannya mempercepat irama. Dua gitar menyambut pukulan perkusi dengan distorsi yang cukup garang, nadanya diimbangi akordeon yang memperkaya instrumen. Ketika itulah, vokalis Marjinal, Mike, menguasai mikrofon. Suguhan musik yang sesungguhnya baru dimulai.


Pelataran Gedung KPK pun berguncang. Para pemuda bertato dan beranting berjingkrak mengikuti irama musik yang menghentak. Bahkan sebagian dari mereka bermoshing di tengah kerumunan. Mereka larut dalam suguhan musik punk akustik ala Marjinal.

Band punk yang tergabung dalam Komunitas Taring Babi itu meramaikan suasana Gedung KPK sebagai bentuk dukungan terhadap lembaga antirasuah. Kehadiran grup yang terbentuk sejak 1997 itu menyedot massa yang sebagian banyak bergaya rambut mohawk. Pentas musik di pelataran markas KPK itu mereka beri tajuk "Jumat Keramat Bersama Marjinal".

Sebagai bentuk dukungan, Marjinal juga menciptakan sebuah lagu khusus yang mereka dedikasikan untuk KPK. Mereka menggarap lagu itu hanya dalam waktu dua hari sebelum mementaskan untuk pertama kalinya di Gedung KPK. Lagu itu mereka beri judul "KPK: Kita Perangi Korupsi".

"Ketika sebuah lembaga penegak hukum yang tugasnya memberantas korupsi dilemahkan, kita tentu tak bisa tinggal diam. Kita, kaum marjinal, harus memberikan perlawanan," ujar Mike. Dan musik pun kembali menghentak. (utd/utd)