Dosen sistem filsafat hukum tersebut datang mengenakan pakaian berwarna biru muda. Tak banyak berkomentar, dia langsung melenggang ke lantai empat, tempat pemeriksaan dirinya untuk dimintai keterangan oleh panel komisioner KY.
"Arief Sidharta juga datang. Ini ada kaitan dengan laporan koalisi. Ada pelanggaran kode etik serius terkait salah kutip dari Profesor Arief Sidharta," ujar anggota Koalisi sekaligus peneliti Indonesia Legal Roundtable (ILR) Erwin Natosmal di Gedung KY, Jakarta, Rabu (25/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat sidang pada 13 Februari lalu, kuasa hukum Komisaris Jenderal Budi Gunawan menanyakan apakah penetapan tersangka boleh diputus dalam praperadilan jika ada kesewenang-wenangan dalam proses penyelidikan. Arief menjawab, boleh sepanjang berdasar Pasal 77 dan Pasal 95 Kitab Undang-ukum Acara Pidana (KUHAP) sejauh sudah ada dalam undang-undang.
Kendati demikian, Sarpin berpendapat, sidang praperadilan dapat memutus keabsahan penetapan tersangka. Menurut Sarpin, KPK tak berwenang menetapkan Budi sebagai tersangka. Sarpin dinilai mendistorsi penjelasan Arief.
Merujuk pasal 77 KUHAP, praperadilan hanya berwenang memeriksa sah atau tidak penangkapan dan penahanan; sah atau tidak penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan; dan ganti kerugian dan rehabilitasi bagi seseorang yang perkaranya dihentikan pada tingkat penyidikan dan penuntutan. Penafsiran berlebih oleh Hakim Sarpin berbuntut panjang lantaran gugatan Budi dikabulkan. (rdk)