Usul Bupati Ujang tersebut disambut positif oleh Kepala Badan SAR Nasional Faustinus Henry Bambang Soelistyo. Menurutnya, monumen kecelakaan QZ8501 tersebut bisa menjadi pengingat bagi Indonesia tentang pentingnya budaya keselamatan transportasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Tidak mungkin kami menemukan semua jenazah. Pasti ada yang tidak ditemukan. Monumen ini dapat mewadahi keluarga korban,” ujar Soelistyo.
Bupati Ujang semula membayangkan salah satu serpihan badan pesawat bisa menjadi salah satu bagian dari monumen itu. Itu sebabnya, ujar Soelistyo, usul pembangunan monumen itu harus mendapat persetujuan Ketua KNKT Tatang Kurniadi.
Pagi tadi, kabin bagian tengah pesawat beserta kerangka sayap AirAsia QZ8501 diserahterimakan Basarnas kepada KNKT. Bangkai pesawat yang sudah remuk tersebut ditemukan Jumat pekan lalu sebelum dibawa ke Jakarta dengan Kapal Crest Onyx.
Kini tanggung jawab atas keberadaan bangkai pesawat itu berada di KNKT. Apakah setelah digunakan untuk keperluan investigasi, bagian pesawat akan dikembalikan ke AirAsia atau disumbangkan menjadi bagian dari monumen seperti ide Bupati Ujang, KNKT belum memutuskannya. (agk)