Pria yang kerap disapa Lulung itu mengatakan upaya suap itu terjadi saat draft APBD DKI 2015 dikembalikan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) kepada Pemprov DKI untuk diperbaiki. "Kira-kira seminggu setelah paripurna pengesahan (27 Januari 2015). Dirumahnya pimpinan, subuh-subuh dikasih bendelan, ditawari program," kata Lulung di Gedung DPRD, Jakarta, Selasa (3/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami pengennya tetap pegang (APBD) hasil pembahasan," ucap Lulung.
Lebih lanjut, Razman mengatakan saat ini pihaknya tengah mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan. Selambat-lambatnya hari Senin pekan depan laporan tersebut akan diserahkan kepada KPK.
"Ahok diduga melakukan upaya suap Rp 12,7 Triliun dengan mendatangi Ketua DPRD Prasetyo Edi Marsudi. Pada waktu itu beliau (Prasetyo) didatangi sekda, habis sholat subuh menawarkan dana itu. Masak Rp 12,1 triliun katanya siluman, tapi kok mereka (Pemprov) nawarin uang," ucap Razman. (pit)