Daeng Koro Bantu Abu Umar sebelum Gabung Kelompok Santoso

Helmi Firdaus, CNN Indonesia | Minggu, 05/04/2015 13:04 WIB
Daeng Koro Bantu Abu Umar sebelum Gabung Kelompok Santoso Barang bukti senjata api milik kelompok teroris Santoso ketika baku tembak dengan aparat keamanan di Polres Parigi, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4).(ANTARA /Fiqman Sunandar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama ini, Daeng Koro alias Sabar Subagyo alias Jimmy alias Autad Rawa alias Ocep alias Abu Muhammad selalu dikaitkan dengan Kelompok Santoso di Poso. Padahal, sebelum itu, dia juga membantu kelompok lainnya.

Daeng Koro sebagaimana disebutkan dalam buku mantan Kepala BNPT Ansyaad Mbai, "Dinamika Baru Jejaring Teror di Indonesia" (2014), disebutkan bahwa Daeng Koro adalah karib dari Abu Umar, tokoh Daru Islam (DI) dari Jakarta. Ini sangat mungkin karena Daeng Koro adalah tokoh DI Sulawesi Selatan dan oleh polisi terdeteksi pernah tinggal di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Keduanya sudah sering bekerja sama sejak lama.

Pada kurun 2010 hingga 2011, sebut Ansyaad, keduanya menyelenggarakan pelatihan militer bagi kedua kelompok di Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Yang tak kalah penting, Daeng Koro juga sering membantu Abu Umar mendapatkan senjata buat kelompoknya. Senjata itu didapatkan Daeng Koro dengan membeli senjata dari Mindanao, Filipina selatan atau menyelundupkan dari sana ke Indonesia. (Lihat fokus: Akhir Perlawanan Daeng Koro)


Kerja sama itu terhenti setelah Abu Umar dan beberapa anggotanya ditangkap hingga Juli 2011. Abu Umar ditangkap di Surabaya, karena menyelundupkan senjata dari Filipina ke Indonesia, untuk pembekalan kamp paramiliter di Sulawesi pada 2008.  Kelompok Abu Umar ini terkenal karena membiayai aksinya dengan melakukan perampokan. Salah satu yang terkenal adalah perampokan di  CIMB Niaga di Medan pada Agustus 2010. Abu Umar akhirnya divonis 10 tahun pada 14 Mei 2012 oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Daeng Koro, sekali lagi berhasil melarikan diri dan kali ini dia bergabung ke Mindanao. Baru pada 2012 dia balik ke Indonesia.

Selain Afghanistan, Mindanao di Filipina selatan jadi lokasi pelatihan teroris yang kemudian melakukan aksi di Indonesia. Salah satu yang terkenal adalah Dulmatin, salah satu dalam aksi Bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang. ( Baca juga: FBI Konfirmasi Tewasnya Pelaku Bom Bali)

Usai itu, Dulmatin disebutkan bergabung dengan Kelompok Abu Sayyaf di Mindanao pada 2003. Pada 2010 Dulmatin diketahui melakukan pelatihan militer di daerah selatan Banda Aceh. Pada 9 Maret 2010, Dulmatin dinyatakan tewas dalam penggerebekan yang dilakukan Densus 88 di Pamulang, Tangerang Selatan. 

Daeng Koro disebutkan tewas dalam baku tembak antara Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri dengan terduga teroris jaringan itu di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4). Sebelumnya, Densus terlibat kontak senjata sekitar satu jam dengan 12 orang tak dikenal di Pegunungan Sakina Jaya. Baku tembak disertai ledakan bom dari kelompok yang melakukan perlawanan itu. (Baca juga: Daeng Koro Pentolan Kelompok Teroris Santoso Diduga Tewas) (hel)