Daeng Koro, Pecatan Kopassus yang Hanya Bisa Main Voli

Helmi Firdaus, CNN Indonesia | Minggu, 05/04/2015 16:38 WIB
Daeng Koro, Pecatan Kopassus yang Hanya Bisa Main Voli Sejumlah personil Inafis memeriksa tempat kejadian perkara tewasnya salah satu teroris anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso usai baku tembak antara Densus 88 Anti Teror Polri, Brimob dengan sedikitnya 12 orang teroris, di pegunungan desa Sakina Jaya kecamatan Parigi Utara, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4). (ANTARA / ZAINUDDIN MN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Daeng Koro diduga kuat tewas dalam baku tembak di Pegunungan Sakina Jaya, Parigi Mautong, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4).

Daeng Koro ini dinilai polisi menjadi salah satu pentolan kelompok teroris Santoso yang disebut polisi banyak melakukan aksi teror di Poso. (Baca juga: Diduga Tewas, Daeng Koro Sedikitnya Terlibat 9 Aksi Terorisme).

Wakapolri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti menyebut bahwa Daeng Koro adalah pecatan TNI Angkatan Darat. Dia ini disebut lebih berpengalaman dari pada Santoso. ( Baca juga: Badrodin Haiti: Daeng Koro, Pecatan TNI AD yang Berpengalaman)


Kepala Pusat Penerangan TNI AD, Brigjen Wuryanto melalui pesan singkat yang diterima oleh CNN Indonesia, Minggu (5/4) membenarkan bahwa Daeng Koro adalah pecatan TNI AD.

"Iya memang benar dia pecatan TNI AD. Dulu kalau tidak salah namanya Sabar Subagyo," katanya.

Wuryanto lalu menjelaskan sebagian latar belakang Daeng Koro di TNI Angkatan Darat. Daeng Koro, sebut Wuryanto pernah berdinas di Kopasandha (kini bernama Kopassus, pasukan elite Angkatan Darat) pada tahun 1982.

Tetapi, ungkap Wuryanto, meski bergabung dengan Kopassus, Daeng Koro ini ternyata tidak memiliki klasifikasi komando, apalagi memiliki kemampuan-kemampuan khusus layaknya seorang prajurit Kopassus yang mumpuni.

"Yang  bersangkutan (Daeng Koro) saat mengikuti latihan komando, ternyata tidak lulus," terangnya.

Karena tidak lulus latihan komando tersebut, lanjut wuryanto, Daeng Koro ditempatkan hanya sebagai prajurit di bagian pelayanan, bukan di bagian depan apalagi pertempuran.

Satu-satunya latihan yang diikuti Daeng Koro dengan baik, tutur Wuryanto adalah training center (TC) bola voli. "Kenapa, karena dia memang bisanya hanya main voli," tegas Wuryanto.

Sebagai mana diketahui, Markas Besar Kepolisian RI menyatakan tokoh penting kelompok teroris Santoso, Daeng Koro, diduga tewas dalam baku tembak antara Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri dengan terduga teroris jaringan itu di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4).

“Diduga satu yang tewas itu Daeng Koro. Untuk memastikannya akan dilakukan tes DNA,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Rikwanto. Sebelumnya, Densus terlibat kontak senjata sekitar satu jam dengan 12 orang tak dikenal di Pegunungan Sakina Jaya. Baku tembak disertai ledakan bom dari kelompok yang melakukan perlawanan itu.

Kejadian bermula dari laporan warga yang melihat enam orang tak dikenal di sekitar kediaman mereka selepas salat Jumat. Warga kemudian melaporkan keberadaan orang-orang tersebut ke Mapolres Parimo.

Tim Densus 88 Antiteror lalu melakukan penyisiran dan melihat sekitar 12 orang tak dikenal. Saat itu tembakan peringatan dilepas, dan kelompok tersebut membalas dengan rentetan tembakan.

Dari baku tembak tersebut, Densus menyita barang bukti dua pucuk senjata laras panjang jenis M-16 dan satu pucuk senjata rakitan, satu bom lontong, ratusan amunisi. dua handphone dan GPS.   

Baca Fokus: Akhir Perlawanan Daeng Koro.


(hel)