Bergabungnya Daeng Koro dengan Kelompok Santoso

Helmi Firdaus, CNN Indonesia | Minggu, 05/04/2015 13:28 WIB
Bergabungnya Daeng Koro dengan Kelompok Santoso Wakil Kepala Polri Komjen Badrodin Haiti (kanan) memerhatikan sejumlah barang bukti yang berhasil diamankan dari terduga teroris yag ditembak mati di Mapolda Sulteng di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (4/4) malam. Kepolisian kembali menembak mati seorang terduga teroris yang diduga kelompok Santoso Cs di Jalur Kebun Kopi, Kabupaten Parigi Moutong pada Sabtu (4/4) sore sehingga menjadi dua orang.(ANTARA/Basri Marzuki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keberhasilan Daeng Koro alias Sabar Subagyo alias Jimmy alias Autad Rawa alias Ocep alias Abu Muhammad kabur dari sergapan polisi tidak membuatnya lemah nyali. Usai melarikan diri ke Mindanao, Filipina selatan, Daeng Koro kembali ke Indonesia. Kembalinya ke Indonesia ini menjadi awal bergabungnya dia dengan kelompok teroris di Poso yang dikenal dengan Kelompok Santoso.

Pada 2012, Daeng Koro kembali ke Indonesia dari Mindanao. Sebagaimana diceritakan oleh mantan Kepala BNPT Ansyaad Mbai dalam bukunya, " Dinamika Baru Jejaring Teror di Indonesia" (2014), begitu datang ke Indonesia, Daeng Koro, bersama teman-teman Makassarnya langung ke Poso untuk bergabung dengan Santoso.

Teman-teman Daeng Koro yang ikut bergabung dengan Santoso adalah orang-orang yang berpengalaman, seperti Abu Harun yang alumni Khasmir, Kholid dan Abu Uswah alumni Moro, Jodi, aktivis Mujahidin Kayamanya dan beberapa lainnya.


Selain itu, turut pula bergabung Kelompok Bima yang dipimpin Zipo. Kelompok Bima ini alumni pelatihan Poso. Bergabungnya mereka membuat kelompok Santoso kuat dan menamakan diri mereka Mujahidin Indonesia Timur. Amir atau ketua dari kelompok ini adalah Santoso dan penasihatnya adalah Daeng Koro. (Baca juga: Badrodin Nyatakan Tewasnya Daeng Koro Lemahkan Santoso)

Pemicu Kemarahan

Kelompok ini mulai melakukan konsolidasi. Tetapi ada satu kejadian yang membuat kelompok ini marah, yaitu penangkapan yang dilakukan Densus 88 pada Sabtu 22 September 2012 di Solo.

Yang ditangkap di sana adalah kelompok yang diorganisir oleh Badri. Badri ditangkap saat berjalan di dekat rumahnya sekitar subuh. Di rumah Badri, polisi menemukan 11 detonator; pipa yang digunakan sebagai casing bom; bahan-bahan kimia seperti urea, belerang, dan campuran lainnya; serta dokumen-dokumen berupa buku-buku jihad.

Saat penangkapan itu juga, Farhan Mujahid, anak tiri Abu Umar yang sudah dianggap keponakan sendiri oleh Daeng Koro mati ditembak polisi. Selain itu, salah satu orang kepercayaan Daeng Koro, yaitu Sutarno, alias Wahid yang merupakan alumni Khasmir ikut ditangkap di Ambon. Kemarahan ini yang memicu aksi balas dendam berikutnya. (Baca juga: Segudang Jejak Teror Daeng Koro di Mata Polisi)

Wakapolri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti saat dihubungi CNN Indonesia, Minggu (5/4)  menegaskan bahwa sebenarnya, Daeng Koro lebih senior dan lebih berbahaya dari kelompok Santoso.  Daeng Koro inilah yang banyak terlibat dalam kerusuhan Poso pada tahun 2000 lalu, bukannya Santoso.

Baca juga Fokus: Akhir Perlawanan Daeng Koro. (hel)