LIPSUS BPJS KESEHATAN
Pelayanan Kesehatan, Medley Keluhan Tanpa Akhir
Yohannie Linggasari | CNN Indonesia
Kamis, 09 Apr 2015 21:20 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Mulyadi, lelaki berusia 52 tahun asal Pondok Cabe Jakarta Selatan, mengaku sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit. Beralas jaket, dia berbaring di lantai ruang tunggu pasien Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati. Sang istri dengan setia mengurut paha dan kaki Mulyadi, berharap dapat menghentikan rintihan pasangannya.
Mulyadi mengeluh nyeri di bagian panggul. Rasa sakit sudah tidak tertahankan hingga anaknya, Suci (28), memutuskan untuk membawa ke RSUP Fatmawati. Dari Pondok Cabe, Jakarta Selatan, Mulyadi tiba di RS Fatmawati pukul 5 pagi, Jumat medio Maret lalu. Setelah menunggu dua jam, dia baru tahu bahwa dokter poliklinik orthopedi tidak berpraktik hari itu.
“Ternyata dokternya baru praktik hari Rabu. Ini pertama kali saya ke sini, makanya tidak tahu. Tadi dari rumah sudah telepon, tidak ada yang angkat,” kata Suci kepada CNN Indonesia saat ditemui di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan.
Mereka lantas kembali ke rumah. Namun karena khawatir dengan kondisi sang ayah yang terus mengeluh sakit, Suci kembali ke RSUP Fatmawati dengan membawa ayah dan ibunya pukul 13.00 WIB. Kali ini, dia meminta kepada RS untuk memasukan ayahnya ke Unit Gawat Darurat (UGD).
Seperti hari-hari lain, pasien membludak di RSUP Fatmawati. Ruang tunggu pasien tidak lagi memadai. Banyak pasien yang terpaksa harus duduk atau berbaring di lantai sembari menunggu tiba giliran untuk diperiksa.
“Harus diperiksa dokter umum dulu untuk dapat rujukan ke UGD. Baru nanti dokter UGD merujuk untuk ke spesialis orthopedi dan kemudian rawat inap,” tutur Suci.
Suci bersama ayah dan ibunya merupakan peserta BPJS Kesehatan golongan I Mandiri. Diceritakan Suci, RSUP Fatmawati merupakan RS rujukan dari RS tempat ayahnya berobat sebelumnya. Suci telah membawa sang ayah ke Klinik Tiga Mandiri di Pondok Cabe dan dirujuk ke RS Bhineka Bakti Husada Tangerang.
Namun dia punya pengalaman buruk di RS itu. “Ketika ayah saya sudah dirawat tujuh hari, pihak RS mengatakan kami harus keluar karena ada batas maksimal rawat inap,” katanya.
Ketika sang ayah masuk lagi ke RS, pihak RS justru mengatakan mereka harus menunggu 30 hari lagi. “Saya pertanyakan mengapa seperti itu? RS memberi solusi agar ayah saya pindah RS dan merujuk ayah ke RS Fatmawati karena katanya alatnya lebih lengkap,” kata Suci.
Jam sudah menunjukan pukul 17.30 WIB ketika Mulyadi mendapat giliran untuk diperiksa dokter umum. “Akhirnya, kami dapat rujukan ke dokter orthopedi. Mereka meminta kami kembali lagi pada Rabu depan untuk berkonsultasi,” kata Suci.
(Baca: Sejumput Potensi Duit Hilang dalam Jaminan Kesehatan)
RSUP Fatmawati menyatakan Mulyadi tidak tergolong semi kritis atupun kritis sehingga tidak perlu dirujuk ke UGD. Dokter memberi resep obat penahan rasa sakit agar Mulyadi dapat bertahan sampai hari Rabu (18/3).
“Padahal saya lihat kondisi ayah sudah mengkhawatirkan. Kalau di RS swasta, mungkin melihat kondisi ayah seperti itu mereka akan langsung bawa ke UGD,” kata Suci.
Pada Rabu (18/3), keluarga Suci sudah bersiap. Adik Suci bahkan sengaja datang pukul 04.30 WIB ke RSUP Fatmawati untuk mengambil nomor antrean dokter poli orthopedi. Berharap mendapatkan nomor-nomor awal, ternyata dirinya mendapatkan nomor antrean ke-65.
“Tadi saya telepon adik saya jam 9, katanya baru sampai nomor antrean ke-2. RS pemerintah itu minta ampunlah. Pihak RS tahu bahwa pasiennya banyak sekali, tetapi dia tidak bisa memperbanyak fasilitas dan jumlah dokter,” kata Suci kesal.
Perjuangan Mulyadi untuk segera tahu penyakitnya dan sembuh ternyata panjang.
Mulyadi mengeluh nyeri di bagian panggul. Rasa sakit sudah tidak tertahankan hingga anaknya, Suci (28), memutuskan untuk membawa ke RSUP Fatmawati. Dari Pondok Cabe, Jakarta Selatan, Mulyadi tiba di RS Fatmawati pukul 5 pagi, Jumat medio Maret lalu. Setelah menunggu dua jam, dia baru tahu bahwa dokter poliklinik orthopedi tidak berpraktik hari itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti hari-hari lain, pasien membludak di RSUP Fatmawati. Ruang tunggu pasien tidak lagi memadai. Banyak pasien yang terpaksa harus duduk atau berbaring di lantai sembari menunggu tiba giliran untuk diperiksa.
Suci bersama ayah dan ibunya merupakan peserta BPJS Kesehatan golongan I Mandiri. Diceritakan Suci, RSUP Fatmawati merupakan RS rujukan dari RS tempat ayahnya berobat sebelumnya. Suci telah membawa sang ayah ke Klinik Tiga Mandiri di Pondok Cabe dan dirujuk ke RS Bhineka Bakti Husada Tangerang.
Namun dia punya pengalaman buruk di RS itu. “Ketika ayah saya sudah dirawat tujuh hari, pihak RS mengatakan kami harus keluar karena ada batas maksimal rawat inap,” katanya.
Ketika sang ayah masuk lagi ke RS, pihak RS justru mengatakan mereka harus menunggu 30 hari lagi. “Saya pertanyakan mengapa seperti itu? RS memberi solusi agar ayah saya pindah RS dan merujuk ayah ke RS Fatmawati karena katanya alatnya lebih lengkap,” kata Suci.
Jam sudah menunjukan pukul 17.30 WIB ketika Mulyadi mendapat giliran untuk diperiksa dokter umum. “Akhirnya, kami dapat rujukan ke dokter orthopedi. Mereka meminta kami kembali lagi pada Rabu depan untuk berkonsultasi,” kata Suci.
(Baca: Sejumput Potensi Duit Hilang dalam Jaminan Kesehatan)
RSUP Fatmawati menyatakan Mulyadi tidak tergolong semi kritis atupun kritis sehingga tidak perlu dirujuk ke UGD. Dokter memberi resep obat penahan rasa sakit agar Mulyadi dapat bertahan sampai hari Rabu (18/3).
“Padahal saya lihat kondisi ayah sudah mengkhawatirkan. Kalau di RS swasta, mungkin melihat kondisi ayah seperti itu mereka akan langsung bawa ke UGD,” kata Suci.
Pada Rabu (18/3), keluarga Suci sudah bersiap. Adik Suci bahkan sengaja datang pukul 04.30 WIB ke RSUP Fatmawati untuk mengambil nomor antrean dokter poli orthopedi. Berharap mendapatkan nomor-nomor awal, ternyata dirinya mendapatkan nomor antrean ke-65.
“Tadi saya telepon adik saya jam 9, katanya baru sampai nomor antrean ke-2. RS pemerintah itu minta ampunlah. Pihak RS tahu bahwa pasiennya banyak sekali, tetapi dia tidak bisa memperbanyak fasilitas dan jumlah dokter,” kata Suci kesal.
Perjuangan Mulyadi untuk segera tahu penyakitnya dan sembuh ternyata panjang.
Jadwal Operasi Tidak Pasti
BACA HALAMAN BERIKUTNYA