Menteri Khofifah: Prostitusi Online Jadi Gaya Hidup

Aghnia Adzkia, CNN Indonesia | Selasa, 21/04/2015 18:29 WIB
Menteri Khofifah: Prostitusi Online Jadi Gaya Hidup Petugas memeriksa kamar indekos ketika razia kependudukan di kawasan Tebet, Jakarta, Selasa (21/4). Razia kependudukan dan rumah kos tersebut dilakukan untuk memastikan data penghuni rumah kos dan memberantas tindak asusila dugaan penggunaan rumah kos sebagai tempat prostitusi. (Antara Foto/Reno Esnir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menilai tren baru prostitusi online bermunculan. Modusnya tak hanya ekonomi melainkan karena gaya hidup.

"Prostitusi online ini tidak sekedar untuk pemenuhan kebutuhan hidup atau faktor ekonomi. Saya melihat prostitusi online banyak terjadi karena lifestyle (gaya hidup)," ujar Khofifah usai menghadiri acara peringatan Hari Kartini di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa (21/4).

Khofifah berpendat, kasus prostitusi melalui media sosial yang dijajakan Dedeuh Alfisyahrin alias Tata Chubby, merupakan tren baru. "Kasus Tata, dia bukan termasuk orang yang tidak mampu, dia hidup cukup lux (mewah)," katanya.


Untuk itu Khofifah mengimbau kepada kaum perempuan untuk mengidentifikasi diri lebih jeli. "Identifikasi diri menjadi penting. Restorasi sosial menjadi penting," katanya.

Khofifah juga menekankan penyebaran informasi soal revolusi karakter bangsa. Seperti yang termaktub dalam butir 9 Nawacita dikawinkan dengan butir 8, restorasi harus dilakukan dengan proses diseminasi.

Prostitusi online menjadi sorotan media saat mencuatnya kasus pembunuhan Tata. Perempuan tersebut ditemukan tewas di kamar kosnya di Jalan Tebet Utara 15C Nomor 28 RT 007/10, Tebet Timur, Jakarta Selatan, Sabtu malam (11/4). Saat ditemukan di kamar kos yang dia sewa seharga Rp 2 juta per bulan, Tata ditemukan tanpa busana dengan kondisi kedua tangan terikat dan mulut tersumpal kaus kaki.

Berdasarkan penelusuran, akun yang menawarkan jasa prostitusi tersebut bukan hanya ditawarkan oleh Tata. Melainkan juga sejumlah akun lain di media sosial Twitter.

Akun yang menawarkan jasa prostisusi lewat media sosial itu bahkan secara vulgar memperlihatkan foto, tarif, dan perincian lain yang didapat pengguna jasa yang berminat dengan penawaran mereka. (rdk)