“Kami Fraksi Partai Demokrat DPR akan meminta komisi terkait untuk (meminta Sudirman) menjelaskan semuanya. Kami akan buka file lama untuk mengukur tingkat validitas pernyataan Sudirman Said,” ujar Sekretaris Fraksi Partai Demokrat Didik Mukrianto, Selasa (19/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal serupa diutarakan politikus Demokrat Ramadhan Pohan. “Tusukan (ke SBY) itu digaungkan di media, artinya sengaja ingin tudingannya jadi keyakinan publik," ujar mantan anggota DPR itu.
Pada sebuah acara diskusi di Jakarta, Minggu (17/5), Sudirman mengatakan selama ini Pertamina dan pemerintah RI diposisikan sebagai trader minyak pemasok Petral sebagai pihak yang lemah karena bisa diatur untuk terus melakukan pembelian spot (sesuai harga di pasar saat itu), bukan berdasarkan kontrak jangka panjang.
Sudirman juga mengatakan banyak ditanya urusan mafia migas oleh Presiden Jokowi. “Dulu banyak kegiatan inisiatif yang tidak tuntas di level Presiden,” kata dia.
Sementara Faisal Basri pada acara diskusi yang sama menyatakan mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan dan mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan sesungguhnya berniat untuk mengubah praktik impor migas Petral yang tak sesuai ketentuan.
Namun fungsi Integrated Supply Chain (ISC) yang hendak diperkuat Karen untuk melakukan impor minyak Pertamina, dipreteli para pemburu rente sehingga fungsi impor ISC dialihkan ke anak usaha Petral di Singapura, Pertamina Energy Services.
“Ada pertarungan mafia di belakang ini. Karen juga dibelenggu satu kekuatan besar yang tidak bisa dikendalikan. Menteri ESDM terdahulu sampai Presiden intervensi. Ingat, Dahlan dulu coba bubarkan Petral, tapi langsung kuncul. Ada satu kekuatan yang tidak setuju, tetapi tiga kali dipanggil SBY akhirnya tidak dibubarkan,” kata Faisal. (agk)