"Pilihannya adalah membeli barang bekas. Jalan pintas itu ternyata memperbanyak anumerta," ujar Tantowi di pada diskusi bertajuk Situasi dan Kondisi Alutsista TNI di Jakarta, Jumat (3/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai tidak bisanya mengaudit anggaran perawatan TNI, Tantowi mengatakan pihaknya sepakat untuk menuntut keterbukaan perawatan TNI dari pemerintah.
Tantowi mengatakan keterbatasan dana pengadaan alutsista baru sebenarnya dapat diakali dengan membeli alutsista dari industri dalam negeri.
Tantowi tak memungkiri belum kokohnya industri alat pertahanan lokal masih membuat TNI bergantung pada alutsista luar negeri, baik yang didapatkan dengan skema kredit ekspor maupun hibah.
Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan saat ini institusinya memiliki 22 unit pesawat Hercules. Dari total tersebut, pesawat yang paling baru dibuat pada 1980.
"Kami punya semuanya 22 ya. Tadi angkatan 1960-an ada enam, angkatan 1980-an itu ada delapan. Sisanya angkatan 1978," ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (2/7).
Pesawat yang dibuat pada 1980 itulah, ucap Moeldoko, yang merupakan buatan terbaru yang dimiliki Indonesia saat ini. Sementara, yang tertua dibuat tahun 1960, salah satunya adalah Hercules C-130 yang dioperatori oleh TNI Angkatan Udara (AU) dengan nomor registrasi A 1301 yang jatuh kawasan Jalan Letjen Jamin Ginting, Padang Bulan, Kota Medan, Sumatera Utara.
"Jadi Hercules A 1301 yang kemarin itu kondisinya tahun 1960, hanya dipakai oleh Indonesia tahun 1964," kata dia. (utd)