200 Juta Penduduk RI Terpapar Bencana, 4 Kali Lipat Malaysia

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Selasa, 07/07/2015 09:16 WIB
200 Juta Penduduk RI Terpapar Bencana, 4 Kali Lipat Malaysia Gunung Sinabung menyemburkan material vulkanis disertai awan panas, tampak dari Desa Kuta Tonggal, Karo, Sumatera Utara, Senin (29/5). (ANTARA/Endro Lewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Penanggulangan Bencana Nasional menyatakan lebih dari 200 juta penduduk Indonesia terpapar bencana. Ini karena letak geografis dan kondisi alam Indonesia yang rawan bencana, mulai gempa sampai banjir.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan sebanyak 148,4 juta penduduk Indonesia terpapar ancaman gempa, mulai dari gempa berskala sedang sampai besar.

Penduduk terpapar bencana ialah penduduk yang akan mengalami kerugian jika terjadi bencana. "Jumlah ini dua kali lipat dari Thailand dan empat kali lipat dari Malaysia," kata Sutopo di Jakarta.


Sementara untuk bencana tsunami, ada sekitar 4,2 juta jiwa penduduk RI yang terpapar bencana, mulai dari tsunami sedang dengan tinggi gelombang mencapai tiga meter hingga tsunami besar.

Di Indonesia, tsunami mengancam penduduk di pesisir pantai barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Papua, sampai Sulawesi.

Posisi Indonesia yang berada di cincin api (ring of fire) dunia juga membuat penduduknya rentan terhadap ancaman gunung api. Menurut Sutopo, ada 127 gunung api aktif yang mengancam 3,9 juta jiwa. (Baca BNPB: Nasib Gunung Raung Tak akan Seperti Sinabung)

Sementara untuk bencana lainnya seperti banjir mengancam 63,7 juta jiwa, longsor mengancam 4,9 juta jiwa, serta gelombang ekstrem dan abrasi mengancam 11,1 juta jiwa.

"Penduduk RI yang terancam banjir sepuluh kali lipat dari Singapura," ujar Sutopo.

Penanganan bencana

Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Andi ZA Dulung menyatakan penanggulangan bencana di Indonesia kini sebenarnya sudah lebih baik. Beberapa tahun belakangan penanganan bencana pun dinilai lebih teratur.

"Sudah ada pembagian kluster, jadi koordinasinya makin jelas," ujar Andi.

Pembagian kluster ini artinya masing-masing lembaga terkait menangani masalah tertentu dalam penanggulangan bencana. Dalam sistem kluster ini, BNPB memiliki peran komando, sedangkan Kementerian Sosial mengurus pengungsian.

Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Kemensos adalah pemulihan trauma. "Kalau di pengungsian ada anak kecil nyanyi-nyanyi, itu mereka sedang trauma healing, supaya jangan trauma karena bencana," kata Andi.  

Kelompok rentan seperti anak-anak, bayi, orang lanjut usia, ibu menyusui, perempuan hamil, dan remaja perempuan menjadi prioritas dalam penanganan bencana. Sebab ketika terjadi bencana, merekalah yang terkena dampak paling besar.

Saat ini Kemensos dan pihak terkait juga sedang menggiatkan penanganan bencana yang terfokus pada kelompok rentan. "Bantuan yang kami tampon, daster, dan lain-lain. Tapi masih ada kesulitan belum bisa memenuhi semua, misalnya diaper untuk orang lansia," ujar Andi.

Kendati demikian, Kemensos mengklaim sudah berusaha memerhatikan kebutuhan kelompok rentan tersebut sampai memerhatikan perbedaan gender. (agk/agk)