Ini adalah mudiknya yang ke-14. Sejak pindah ke Bekasi tahun 2000, Comot, begitu dia biasa disapa, selalu mudik tiap tahun. Dia mudik bersama istrinya sejak belum punya anak hingga kini punya ‘buntut’ dua. Anaknya yang tertua, laki-laki sudah berusia 11 tahun.
Comot mudik selalu dengan menggunakan mobil pribadi, sebuah station wagon dan tanpa menyewa sopir. “Saya memang suka nyetir. Dulu cita-cita jadi sopir truk,” kata Comot saat berbincang dengan CNN Indonesia sebelum berangkat. Dia kini bekerja sebagai kepala cabang sebuah perusahaan yang bergerak di bidang otomotif yang kantor pusatnya di Gresik, Jawa Timur. (Baca juga: Sejarah Mudik, Batavia, dan Kereta Api)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada mudiknya yang ke-14 ini, Comot dan keluarga akan menempuh jalur pantura. Untuk urusan mudik saja, Comot sudah 26 kali menyusuri jalur pantura. Hitungan ini adalah berangkat dan pulang.
Comot memilih jalur pantura untuk mudik karena menurutnya lebih hemat waktu. Kontur jalurnya pun landai, tidak berkelok-kelok. “Ini bikin kita tidak bosan,” ungkapnya. Saat awal mudik, perjalanan itu bisa dia tempuh dalam 18-20 jam dengan dua kali istirahat di Cirebon lalu di Tuban.
Sekarang, karena faktor usia, dia bisa tiga kali istirahat. “Istirahatnya bukan sebentar, tapi benar-benar tidur di losmen atau hotel,” ungkapnya. Berkat patuh pada tubuh dengan memberi istirahat jika lelah, selama 26 kali Comot mudik melewati jalur pantura, dia selalu selamat.