Kepala bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Patridge Renwarin mengatakan, saat kerusuhan terjadi petugas kepolisian memang mengeluarkan tembakan. Itu, kata dia, dilakukan untuk mencegah massa berbuat onar. (Baca juga: Polisi Tembak Tiga Pelaku Penyerangan Salat Ied di Papua)
Setelah tembakan peringatan tak diindahkan massa, petugas lalu melumpuhkan pelaku penyerangan. Polisi mencatat ada 11 korban luka. Tiga di antaranya luka tembak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Insiden kerusuhan di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, dikabarkan menyebabkan jatuhnya korban. Satu orang penyerang disebut tewas dalam kejadian tersebut, tapi belum diketahui penyebabnya.
Adanya korban tewas ini menurutnya harus diusut tuntas selain kasus perusakan dan pembakaran.
Dalam catatan Lenis, selain korban jiwa, ada juga korban materi karena massa yang menyerang membakar kios yang ada. Ada 13 toko dan 13 kios biasa yang terbakar. Kios tersebut berada di pasar tempat di mana komunitas warga Kristen dan Islam bertemu untuk bertransaksi.
Pemerintah menurut Lenis akan membangun kios dan bangunan lain yang terbakar. Termasuk tempat ibadah yang jadi sasaran pembakaran.
Jatuhnya korban juga diungkapkan oleh Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) sewaktu memberikan klarifikasi atas peristiwa itu.
Ketua Umum PGLII Ronny Mandang saat konferensi pers di gedung Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jakarta Pusat, Sabtu (18/7), mengatakan: "Sejauh ini kami mendapatkan informasi ada 12 korban dari GIDI dalam peristiwa ini. Satu orang meninggal dan sisanya luka-luka." (Baca: PGLII Tegaskan Kerusuhan di Tolikara Bukan Konflik Agama)
(sur)