"Untuk e-voting perlu dikaji lagi secara mendalam, termasuk kesiapan warga terhadap teknologi. Harus ada uji coba di wilayah-wilayah yang lebih kecil, misalnya pilkades (pemilihan Kepala Desa) atau pilkada yang penduduknya tidak terlalu banyak. Kalau berhasil baru ditarik ke Jakarta," kata Djarot di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (30/7). (Lihat Juga: E-KTP Diharapkan Efektif Berfungsi Tiga Tahun Lagi)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Kepala Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza berpendapat hingga saat ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum juga yakin untuk menggunakan teknologi pemungutan suara secara elektronik atau electronic voting (e-voting) yang dimiliki oleh BPPT. (Lihat Juga: BPPT Siap Gunakan Teknologi Penghitungan Akurat untuk Pilkada)
"Kami juga tidak mau buru-buru. Hal yang terpenting, KPU yakin dulu. Sayangnya, sampai sekarang, KPU belum yakin," kata Hammam.
Hammam juga meminta agar KPU memisahkan persoalam sistem politik dan sistem teknologi. "Jangan bilang sistem teknologi tidak siap karena sistem politik yang tidak siap. Kami sudah siap," katanya. (utd)