Jelang pembukaan muktamar, empat tokoh NU dikabarkan akan maju ke pemilihan ketua umum, untuk menggantikan Said Aqil Siroj.
Empat orang itu adalah pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Salahuddin Wahid alias Gus Solah, Wakil Ketua PBNU Asad Said Ali, Muhammad Adan mantan Ketua PWNU Jawa Tengah dan petahana Said Aqil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum, itu baru wacana. Nanti di hari terakhir baru akan diketahui," ujarnya kepada CNN Indonesia, tadi malam, melalui sambungan telepon.
Jika tidak memenuhi persyaratan pertama itu maka bakal calon tersebut akan langsung gugur.
Proses selanjutnya, para calon ketua umum harus mendapatkan restu dari rais aam yang sudah terpilih. Salah satu wujud restu itu adalah kontrak antara rais aam dan sang calon ketua umum. Imam berkata, kontrak tersebut disepakati dalam bentuk tertulis maupun lisan.
Setelahnya, sebagaimana diatur pada Pasal 41 huruf c Aturan Rumah Tangga PBNU, ketua umum akan dipilih secara langsung oleh muktamirin atau peserta muktamar melalui musyawarah maupun pemungutan suara.
Sementara itu untuk pemilihan rais aam, Imam mengatakan pemilihan akan dilakukan dengan cara musyawarah mufakat para alim ulama. Mekanisme ini disepakati para alim ulama pada musyawarah nasional yang berlangsung Juni silam.
Pada muktamar ke-32 PBNU di Makassar tahun 2010 lalu, tiga orang maju ke pemilihan ketua umum. Hasilnya, Said Aqil berhasil mengungguli Hasyim Muzadi dan Gus Solah. Sebelum pembukaan muktamar, Said Aqil sudah menegaskan niatnya untuk kembali memimpin PBNU.
Hal serupa sudah dilakukan Asad Ali yang bertahun-tahun mengabdi di Badan Intelijen Negara. Jabatan terakhirnya di BIN adalah wakil kepala.
Sementara Gus Solah belum secara resmi menyatakan niatnya untuk berkompetisi pada pemilihan tersebut. Putra Ketua Dewan Syuro pertama PBNU Mohammad Hasyim Asy'ari ini masih menanti kepastian dukungan dari pengurus-pengurus cabang. (hel)