Namun, satu hal yang membuatnya khawatir ialah ketersediaan air untuk memadamkan api jika kebakaran hutan terjadi.
"Memang akibat kekeringan yang paling mengkhawatirkan adalah sumber air untuk mematikan api," ujar Siti dalam jumpa pers di Gedung Manggala Wanabakti, Jumat (30/7). (Lihat Juga: FOKUS Bencana Hadang Nusantara)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi air dibawa pakai helikopter lalu dijatuhkan dan apinya mati. Namun, kalau apinya sudah sangat tinggi dan banyak harus pakai traktor air yang memiliki energi kinetik," kata Siti.
"Di beberapa sungai kalau sampai sekarang masih ada yang bagus dan besar seperti di Jambi dan Kalimantan Barat. Kalau perlu pakai air laut," ujarnya.
Untuk mengatasi kebakaran hutan sendiri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki dana sekitar Rp 107 miliar untuk seluruh Indonesia dalam APBN 2015.
"Kalau dana buat saya tidak terlalu masalah ketika siaga bencana dananya dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) yang siap pakai," katanya.
Pembuatan kanal
Selain menggunakan teknik water bombing dan traktor air untuk mengatasi kebakaran hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama BNPB akan melakukan pembuatan sekat kanal untuk pencegahan meluasnya kebakaran. (Baca Juga: BNPB Bongkar Motif dan Modus Kebakaran Hutan dan Lahan)
Dana sebesar Rp 15 miliar pun sudah disiapkan BNPB untuk membangun sekitar 600 sekat kanal. Namun, hingga saat ini pembangunan sekat kanal masih terkendala di daerah.
"Pemerintah daerah menunggu pedoman yang spesifik," ujarnya.
Sebelumnya untuk pencegahan kebakaran hutan pemerintah berencana akan membangun 1.000 kanal di sejumlah daerah di Riau. Salah satu sekat kanal yang berhasil dibuat berada di Meranti. (utd)