"Lebih cepat lebih baik. Dengan demikian, akan memberikan ruang yang pasti dan lebih banyak waktu kepada siapa yang menggantikan agar ada waktu beradaptasi," kata Andreas di Menteng, Jakarta, kemarin. (Baca Juga: FOKUS Siapa Terdepak dari Kabinet Jokowi?)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perubahan kabinet itu sebenarnya sudah disampaikan Jokowi pada awal pemerintahan. Dia akan lakukan evaluasi khususnya pada para pembantunya, kurang lebih sebelum setahun," kata Andreas.
PDIP sebagai partai pengusung sang Presiden memang terlihat mendesak adanya reshuffle. Andreas mengatakan hal ini terjadi karena PDIP merasa punya tanggung jawab moral untuk memberikan masukan yang pas kepada pemerintah.
"Masalahnya kalau hasilnya baik, pasti orang tahunya pemerintah yang sukses, tapi kalau buruk orang pasti tahunya PDI Perjuangan. Ke depan tahun 2019, ini menjadi beban moral dan politik buat kami," kata Andreas.
Sebelumnya, PDIP telah menyerahkan kriteria calon menteri yang layak versi mereka kepada Jokowi. (Baca Juga: PDIP Serahkan Kriteria Menteri yang Diinginkan ke Jokowi)
“Ini proses dialog. Kalau tiba saatnya (reshuffle kabinet), kami yakin Pak Jokowi akan membangun komunikasi politik,” kata Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto di Kantor Dewan Pimpinan Pusat PDIP, Jakarta, Jumat (31/7).
Menurut Hasto, menteri-menteri baru yang nantinya akan masuk Kabinet Kerja harus memiliki kualifikasi kepemimpinan mumpuni, manajemen pemerintahan yang baik, dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah rakyat.
Orang yang memiliki kriteria-kriteria tersebut dianggap mampu mengatasi berbagai tantangan yang saat ini dihadapi pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla. (utd)